Paguyuban Pedagang Lesehan : Harga Kuliner di Malioboro Jauh Lebih Murah Dibanding Daerah Lain !
Sosial

Paguyuban Pedagang Lesehan : Harga Kuliner di Malioboro Jauh Lebih Murah Dibanding Daerah Lain !

Danurejan (jogja.sorot.co) -- Sejak Minggu (10/9/2017) malam hingga Senin (11/9/2017) hari ini viral di salah satu grup facebook Yogya yang mengunggah keluhan seorang netizen terkait harga kuliner di kawasan Malioboro. UPT Malioboro selaku pihak yang berwenang melakukan pengawasan pun telah klarifikasi langsung kepada paguyuban pedagang. Hasilnya, hingga Senin sore belum ditemukan bukti kebenaran kabar viral itu terjadi di sepanjang Jalan Malioboro.

Paguyuban Pedagang Lesehan Malam Malioboro (PPLMM) pun turut angkat bicara. Menurut Ketua PPLMM, Sukidi, dia melihat memang ada upaya menjatuhkan citra dunia pariwisata Yogyakarta dan Malioboro pada khususnya.

"Dari hari ke hari saya kira ada yang sengaja ingin jatuhkan nama Malioboro," ketusnya, Senin (11/9/2017).

Dia pun balik bertanya yang kerap mengunggah informasi di media sosial tanpa klarifikasi lebih dulu adalah warga asli Yogya atau bukan. Sebabnya, pihaknya berulang kali merasa dirugikan oleh kabar burung yang beredar di dunia maya khususnya soal tarif harga menu makanan. Padahal, dipaparkannya, seluruh pedagang lesehan di Malioboro telah memasang daftar menu beserta harga per porsi. Jika wisatawan merasa harga terlalu mahal, maka pedagang dipastikan tak akan memaksanya memesan makanan atau minuman. 

"Kalau uang tak cukup untuk beli, ya gak usah masuk jajan situ, kita juga tak memaksa," tandasnya.

Dia menduga beberapa motif keluhan soal tarif harga di lesehan Malioboro karena masyarakat membandingkan harga dengan warung makan atau lesehan di pinggir jalan luar kawasan wisata.

Diakuinya, beberapa waktu lalu perwakilan paguyuban pedagang bersama UPT Malioboro studi banding ke Bandung Jawa Barat. Tujuannya untuk membandingkan pola pelayanan, kualitas makanan, hingga harganya. Dan hasilnya, harga makanan/minuman di kawasan Malioboro masih tergolong murah meskipun ada segelintir orang yang merasa harga kuliner di Malioboro kurang layak untuk kantong warga Yogya.

"Kalau ukuran orang asli Yogya kurang layak, tapi kalau kita tahu harga di tempat wisata luar daerah, bisa jauh lebih mahal. Contoh ayam bakar di Malioboro sekitar Rp25-30 ribu per porsi, di Bandung kemarin kita jajan di warung makan taman kuliner jauh lebih mahal, Rp72 ribu, kita tambah sambal nambah bayar Rp22.500," jelasnya.

Sukidi pun mengaku mulai malas menanggapi keluhan mahalnya harga kuliner di Malioboro. Terlebih, postingan teranyar Minggu malam belum terbukti kebenarannya setelah pihak paguyuban dan UPT Malioboro melakukan penelusuran.

"Saya malas ngurusi itu medsos, kalau mau kita juga bisa posting nota kita waktu makan di Bandung biar ikut viral," sebutnya.

Disinggung kenapa harga kuliner di Malioboro lebih mahal dibandingkan warung makan biasa, Sukidi mengaku karena masuk kawasan wisata dan belum ada referensi harga yang diberikan oleh pemerintah kota sebagai patokan.

"Kalau standarisasi harga, itu tugas pemerintah, nanti berikan referensi dan tolok ukurnya. Kita dulu pernah bahas itu, teman-teman ada yang keberatan karena tiap pedagang tempat belanja bahan pokok dan harganya beda-beda," imbuh Sukidi yang mengaku paguyubannya beranggotakan sekitar 60 pedagang lesehan.