Wisata Edukasi Gratis Mengenal Sejarah Pengobatan Mata di Museum dr YAP
Pendidikan

Wisata Edukasi Gratis Mengenal Sejarah Pengobatan Mata di Museum dr YAP

Gondokusuman (jogja.sorot.co)--Rumah Sakit Mata dokter YAP yang berada di Jalan Cik Dik Tiro, Gondokusuman ternyata tak hanya sebagai tempat berobat mata saja. Namun di kompleks rumah sakit mata tertua di Yogyakarta tersebut, berdiri pula museum mata. Di dalam museum sendiri berisikan peninggalan barang bersejarah termasuk peralatan-peralatan pengobatan mata milik dokter Yap dan keluarga. Namun sayang, di tengah nilai sejarah yang cukup tinggi, hingga saat ini, kunjungan ke museum tersebut rendah.

Sebagai informasi, dr Yap Hong Tjun merupakan lelaki keturunan Tionghoa yang menjadi dokter mata paling masyur pada masanya di Jogjakarta. Ia menjadi satu-satunya gantungan harapan warga Yogyakarya yang mempunyak masalah kesehatan mata.

Museum ini diresmikan sejak tahun 1997 atas prakarsa mantan Direktur Rumah Sakit Mata dr YAP, almarhumah Tri Sutartin. Kala itu Tri prihatin dengan kondisi peralatan pengobatan peninggalan dr Yap yang hanya teronggok di gudang setelah tergantikan dengan peralatan yang lebih modern. Peralatan ini sebenarnya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena memang dr Yap saat itu sangat tersohor.

Oleh direktur, kemudian dibuatkan satu ruangan khusus yang kemudian digunakan untuk menyimpan peralatan kesehatan kuno tersebut.Kurang lebih di dalam museum sendiri terdapat 190 alat kedokteran mata milik dr Yap yang bisa dinikmati sekaligus dipelajari oleh masyarakat..

Tak hanya itu, di sini juga terdapat 512 koleksi alat rumah tangga dan kurang lebih 1000 buku koleksi dr Yap. Museum ini menempati area sisi barat Rumah Sakit Dr. YAP dengan luas bangunan 245 Meter Persegi.

Ditemui sorot.co, pengelola Museum Mata dr Yap, Dwi Ana mengatakan, museum ini dibuka secara luar untuk masyarakat. Pengelola bahkan tak sepeserpun memungut uang masuk kepada masyarakat yang ingin datang dan belajar mengenai sejarah pengobatan mata di Indonesia.

Ia mengakui bahwa saat ini kunjungan ke museum masih sangat sepi. Tercatat setiap harinya, hanya ada 5 hingga 15 pengunjung yang datang. Sebagian besar pengunjung yang datang menurut dia biasanya adalah pasien maupun keluarga pasien. Kunjungan baru ramai jika ada rombongan pelajar yang berkunjung ke museum.

"Memang sangat sepi, bisa jadi karena masyarakat memang belum banyak tahu mengenai museum ini," ucapnya.

Salah satu yang menjadi kendala pihaknya dalam mensosialisasikan maupunmempromosikan museum dr Yap menurut Dwi Ana di keterbatasan sumber daya manusia. Sehari-harinya, museum hanya dikelola oleh dia dan seorang pegawai yang bertugas sebagai pemandu bagi pengunjung yang datang.

Sebenarnya museum ini sangat berguna bagi masyarakat yang bisa mengetahui sejarah pengobatan mata di Indonesia,” lanjut dia.

Dwi berharap agar ke depan Museum Rumah Sakit Mata Dokter YAP bisa lebih eksis, lebih maju dan lebih dikenal masyarakat seperti museum yang lainnya. Dengan adanya hal ini, maka edukasi kepada masyarakat mengenai sejarah pengobatan mata di Indonesia dan juga pentingnya menjaga kesehatan mata bisa semakin meluas.

Ini merupakan aset sejarah sehingga kami membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat ataupun pihak sekolah yang ingin mengajak siswanya belajar di sini. Museum ini buka hari Senin sampai Sabtu mulai pukul sembilan pagi hingga tiga sore dan gratis untuk umum,” lanjut dia.