Kisah Perjuangan Ibu-ibu Korban Penipuan First Travel, Bolak-balik Jogja-Jakarta Demi Perjuangkan Hak
Sosial

Kisah Perjuangan Ibu-ibu Korban Penipuan First Travel, Bolak-balik Jogja-Jakarta Demi Perjuangkan Hak

Jogja (jogja.sorot.co)--Tak dipungkiri lagi, terungkapnya kasus penipuan dan penggelapan dana jemaah umrah oleh biro travel PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel menghentak khalayak seantero penjuru negeri. Tak terkecuali para korban yang merasakan dampaknya secara langsung. Niat ibadah dan kepercayaan yang diberikan kepada First Travel ternyata dipermainkan begitu saja.

Karena sudah terlanjur basah, mau tak mau para korban harus rela mengurungkan niat berangkat umrah tahun ini meski telah membayar uang tunai sebagai biaya perjalanan. Seperti apa yang dirasakan oleh Novianti (36), salah satu korban asal Yogya.

Kepada sorot.co, ibu rumah tangga ini tak percaya saat kasus penipuan First Travel terbongkar oleh Mabes Polri beberapa waktu lalu. Sebabnya, dia termasuk pelanggan yang mempercayakan perjalanan ibadah umrah melalui First Travel. Terhitung sudah dua kali ini dia bersama keluarganya berangkat umrah melalui First Travel. Pertama pada tahun 2016 lalu. Novi mendaftar sejak 2015 dan membayar biaya sekitar Rp13 juta.

"Saat itu berangkat tahun 2016, sembilan hari di sana (Tanah Suci), pelayanannya bagus, ada bus, city tour, guide, hotel, dan tepat waktu," kata Novi, Rabu (13/9/2017).

Pengalaman itulah yang membuatnya kembali mendaftar umrah ke First Travel pada 2016 untuk keberangkatan periode Desember 2016-Mei 2017. Yang semakin menambah kepercayaannya terhadap First Travel, lanjutnya, karena banyak temannya yang berangkat lewat First Travel, biro travel tersebut telah mengantongi izin dari Kementerian Agama, dan memecahkan rekor MURI penyelenggaraan manasik umrah dengan jumlah jemaah terbanyak. Tahapan ketika mendaftar, membayar biaya, dan mengurus dokumen diakuinya berjalan lancar. 

Namun, kecurigaan mulai muncul ketika periode keberangkatan terlewati, dia mendapat kabar dari pihak First Travel jika keberangkatan ditunda pada Juni 2017.

"Setelah bulan Juni tak jadi berangkat, terus ada berita kasus penipuan First Travel, saya baru sadar jika ikut jadi korban," tutur Novi yang bertempat tinggal di Ngentak, Baturetno, Kecamatan Banguntapan, Bantul ini.

Diakuinya, total ada 11 orang rombongannya yang menjadi korban. Delapan orang berasal dari keluarganya, dan tiga orang teman-temannya. Novi pun telah membayar lunas biaya perjalanan dengan metode transfer dua kali, yakni Rp14,3 juta ditambah Rp2,5 juta.

Setelah dipastikan gagal berangkat umrah, Novi kini berjuang untuk menarik uang yang telah disetorkannya kepada First Travel. Selain telah minta pendampingan kepada Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY), Novi bersama suaminya juga bolak-balik Yogya-Jakarta untuk mengurus pengembalian paspor dan proses hukum perdata.

"Kalau paspor sudah saya ambil, ke Jakarta sendiri. Pekan ini saya juga harus kembali ke Jakarta mengurus proses perdata agar uang saya agar bisa secepatnya balik, meski juga ada pendampingan dari LKY dan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)," imbuhnya.