Jadi Kamar Hotel Mewah, Ruang Kerja Jenderal Soedirman Dikunjungi Veteran WEHRKREIS III
Peristiwa

Jadi Kamar Hotel Mewah, Ruang Kerja Jenderal Soedirman Dikunjungi Veteran WEHRKREIS III

Danurejan,(jogja.sorot.co)--Memperingati Hari Pahlawan 10 November, beberapa orang pejuang veteran yang tergabung dalam Paguyuban WEHRKREIS (Yayasan Pertahanan) Daerah Perlawanan III Jogjakarta napak tilas ke bekas ruang kerja Panglima Besar Jenderal Soedirman di Hotel Grand Inna Garuda (dulu bernama Hotel Merdeka), Jumat (10/11/2017).

Di kamar 291, yang saat ini dinamai Soedirman Suite, pada masa perjuangan mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1948 dipakai sebagai kantor Markas Besar Oemoem (MBO) Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pimpinan Jenderal Soedirman.

Kala itu, Jogjakarta menjadi ibu kota Indonesia, dan karena situasi politik dan keamanan nasional, hotel Merdeka untuk sementara waktu difungsikan sebagai kompleks kantor untuk kabinet pemerintahan. Sedangkan proklamator Soekarno dan Bung Hatta saat itu berkantor di Gedung Agung.

Di sini ruang kerja Jenderal Soedirman, tiap hari bolak-balik dari Bintaran (Kecamatan Mergangsan) ke sini untuk menyusun rencana perang gerilya,” kata salah seorang veteran, Samdhy (91), menceritakan kisah yang masih membekas di ingatannya.

Dalam napak tilas ini, Samdhy yang waktu itu tergabung dalam Tentara Rakyat cukup kaget ketika menjejakkan kakinya ke kamar yang terletak di lantai dua bangunan depan Hotel Grand Inna Garuda. Sebabnya, isi ruangan telah berubah tak seperti waktu zaman perjuangan perang gerilya. 

Kalau dulu hanya ada meja dan kursi karena hanya dipakai untuk kantor. Sekarang sudah jadi kamar hotel mewah,” ujarnya.

Ruang kerja Jenderal Soedirman itu memang telah direnovasi oleh pengelola hotel berkonsep modern pada tahun 2012. Semua peninggalan Jenderal Soedirman di antaranya, tempat tidur, meja kerja dan kursi, pakaian dinas, dan beberapa perlengkapan lainnya diserahkan kepada Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman. Yang tersisa dipertahankan keasliannya hanya daun pintu dan jendela.

Di kamar ini disusun rencana perang gerilya melawan Belanda. Waktu itu Pak Dirman (Soedirman) masih sehat, mulai ditandu ketika perang gerilya,” imbuh Samdhy, veteran yang ikut dalam pertempuran 10 November di Surabaya dan perang gerilya di Magelang dan Ambarawa.

Sebelum napak tilas di ruang kerja Jenderal Soedirman, para veteran lebih dulu napak tilas di Tetenger Jogja Kembali yang berada di ujung utara Jalan Malioboro. Tetenger atau tanda berbentuk prasasti merupakan monumen sejarah ditariknya bala tentara Belanda dari ibu kota Republik Indonesia di Jogjakarta berdasarkan kesepakatan dalam persetujuan Roem-Royen, yang dibacakan secara formal oleh Komisi PBB tanggal 7 Mei 1949.

Tentara Belanda berhasil diusir dari Jogja pada 29 Juni 1949 setelah melalui pertempuran sengit di dalam kota termasuk seusai aksi heroik Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya. Dan dari tetenger ini secara de facto dan de jure Jogjakarta kosong dari tentara Belanda.

Mamiek Katamsi, pelaku Serangan Oemeom 1 Maret 1949 dari Tentara Pelajar sekaligus Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Paguyuban Daerah Perlawanan III Jogjakarta, mengisahkan bahwa 10 November 1945 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia yang sedang berjuang mempertahankan kedaulatan seusai proklamasi kemerdekaan. Pertempuran pejuang dan tentara melawan pasukan Belanda yang bersenjatakan lebih modern dan belum mau mengakui kemerdekaan Indonesia dengan membonceng sekutu (pasukan Inggris).

Kala itu, pejuang dari Jogjakarta juga turut terlibat berkat andil dan dukungan Raja Keraton Jogjakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Dengan semangat tanpa pamrih berjuang mengorbankan jiwa dan raganya, rakyat berjuang merebut dan mengusir Belanda dan sekutu dari titik pertempuran di Surabaya dan disusul pengusiran di daerah lain termasuk Jogja beberapa tahun kemudian,” kisah veteran berusia 85 tahun ini.

Ia pun mengajak generasi penerus bangsa agar mengenang jasa para pahlawan, dengan berdoa kepada Allah, dan meneladai semangat juang para pahlawan.