Pasca Renovasi Puluhan Siswa Kesurupan, Ini Sejarah SMPN 15
Peristiwa

Pasca Renovasi Puluhan Siswa Kesurupan, Ini Sejarah SMPN 15

Danurejan,(jogja.sorot.co)--Selama dua pekan terakhir, lebih dari 30 siswa SMP N 15 Jogja mengalami kesurupan massal. Sontak peristiwa ini menarik perhatian berbagai pihak. Namun, belum semua mengetahui seperti apa sejarah berdirinya sekolah yang terletak di Jalan Tegal Lempuyangan 61, Bausasran, Kecamatan Danurejan ini.

"Jadi bangunan SMP 15 punya sejarah panjang, dari berbagai bahan referensi yang langka dan terbatas, sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan Indonesia," kata Wakil Kepala Sekolah Bagian Humas dan Sarpras SMP N 15 Jogja, Heri Sumanto, ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/11/2017).

Kala itu, SMP N 15 merupakan Sekolah Teknik (ST) bernama Amba School. Sekitar tahun 1975, banyak ST di Jogja yang beralih nama dan digabung menjadi satu sekolah di satu lokasi, seperti ST 7,8,9,10 diubah menjadi dua sekolah yakni ST 7 berdiri sendiri dengan program keterampilan logam, dan ST 8 gabungan dari ST 8,9, dan 10, dengan program ketrampilan listrik dan bangunan. 

Pada tahun 1978, ST 7 dipindah ke luar kota menjadi sekolah menengah pertama (SMP). Sedangkan ST 8 tetap berada di Jalan Tegal Lempuyangan dan menambah program keterampilan logam.

Berdasarkan SK Mendikbud RI No.0259/O/1994 tanggal 5 Oktober 1994 tentang alih fungsi ST/SKKP menjadi SMP, maka ST Negeri 8 beralih fungsi menjadi SMP N 19 Jogja dengan program ketrampilan yang tetap sama waktu masih ST.

Pada tahun 1997, SMP N 19 berubah nama menjadi SLTP N 15 Jogja berdasar SK Mendikbud No.034/O/1997 tanggal 7 Maret 1997 tentang perubahan nomenklatur SMP menjadi SLTP serta organisasi dan tujuh tata kerja SLTP. Selanjutnya, tahun 2000 hingga kini, SLTP N 15 berubah nama menjadi SMP N 15 Jogja.

"Pasca musibah puting beliung tahun 2000an, saat ini tinggal menyisakan dua bangunan asli sejak didirikan pertama kali dahulu. Di bagian tengah dan sisi selatan, dan ada mesin praktik keterampilan, buku-buku, dan beberapa tulisan di dinding bangunan," jelas Heri.

Apakah sejarah dan usia tua bangunan SMP N 15 menjadi salah satu penyebab kesurupan massal, Heri tidak mengiyakan maupun tidak membantahnya. Menurutnya, dari sisi kepercayaan agama, memang ada makhluk gaib yang hidup beriringan dengan manusia di dunia.

Yang sempat terlintas di benaknya adalah, apakah kesurupan massal ini berkaitan dengan renovasi bangunan depan. Karena kesurupan terjadi setelah proses renovasi dimulai.

"Ada renovasi kantor, cuma ganti atap, di dekatnya ada pohon beringin yang dipangkas, setelah itu baru ada kesurupan," beber Heri.

Namun ia enggan berspekulasi lebih jauh. Sebabnya, pohon beringin itu kerap dipangkas ranting dan daunnya karena dekat dengan atap dan kabel listrik.

"Dulu-dulunya juga sering dipangkas, tapi waktu renovasi memang cukup banyak yang dipangkas," imbuhnya.

Peristiwa kesurupan massal di SMP N 15 Jogja tercatat empat kali terjadi dalam dua pekan terakhir. Pertama pada tanggal 3 November, kedua pada 6 November, ketiga pada 7 November dan terakhir 14 November kemarin. Total lebih dari 30 siswa yang kesurupan merata dari kelas 7,8, dan 9.

Lokasi siswa kerusupan pun berbeda-beda, ada yang kesurupan ketika menyusuri jalan menuju kamar kecil, di lapangan basket, dan ruang kelas. Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah untuk menangkal peristiwa ini terulang lagi.

"Kita sudah lakukan rukiyah, penguatan pendidikan agama, pendampingan psikolog kerjasama dengan Puskesmas dan KPAI, memaksimalkan fungsi BK, mengaji bagi muslim dan yang non muslim sesuai ajarannya," imbuh Heri.

Meski demikian, Heri menegaskan peristiwa kesurupan tidak membuat siswa yang berjumlah total 999 orang takut masuk ke sekolah. Pihak wali murid pun masih mempercayakan sekolah untuk mengajar anak-anaknya.

"Tapi orang tua yang ikut galau ada beberapa, waktu kejadian ada yang datang bawa paranormal sendiri, bahkan sempat malam-malam tanpa koordinasi datang ke sekolah bawa paranormal," imbuhnya.