Dianggap Lakukan Maladministrasi Memutus Listrik Sepihak, Petani Temon Geruduk Kantor PLN
Peristiwa

Dianggap Lakukan Maladministrasi Memutus Listrik Sepihak, Petani Temon Geruduk Kantor PLN

Banguntapan,(jogja.sorot.co)--Pada kamis (05/04/2018) sejak pukul 10.00 WIB warga terdampak proyek bandara NYIA Kulon Progo dan relawan solidaritas yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP – KP) mendatangi kantor PLN Yogyakarta. Warga bersikukuh menuntut PLN yang dianggap telah melakukan maladministrasi dengan memutus aliran listrik ke warga secara sepihak pada November 2017 lalu.

Warga menyampaikan Surat Peringatan kepada Manajer Area PLN Yogyakarta, Eric Rossi Priyo Nugroho. Surat Peringatan tersebut disampaikan karena tidak ada tindak lanjut dari PT. PLN (Persero) Area Yogyakarta setelah Manajer PLN Eric menerima laporan penyelidikan dari Ombudsman RI Perwakilan DIY pada tanggal 17 Januari 2018 lalu.

Awalnya pihak PLN menyampaikan akan memberikan respon 2 hari setelah adanya surat peringatan dari warga. Warga dan relawan pun akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di area kantor PLN hingga jatuh tempo pihak PLN memberikan respon. Sembari menunggu hasil negosiasi, berdasarkan pantauan sorot.co hingga pukul 21.00 WIB warga dan relawan solidaritas masih bertahan di kantor PLN.

Setelah negosiasi usai, pihak manajemen PLN melalui asisten manajer Riyanta menyampaikan bahwa kedepan PLN akan berkoordinasi dengan pihak terkait masalah ini. Sesuai dinamika kesepakatan dalam negosiasi telah disepakati akan ada pertemuan lagi dengan warga pada Selasa siang minggu depan di Kantor PLN area Yogyakarta.

Tadi sudah koordinasi dengan pihak perwakilan hukumnya, nanti pada saat itu kami sampaikan apa perlu disampaikan itu saja,” jelas asisten manajer PLN.

Ketika ditanya apakah listrik bisa dihidupkan lagi untuk warga, Riyanta menjawab belum tahu. Pihaknya berdalih masih membutuhkan waktu untuk sama-sama mengkaji daripada hak-hak warga. Karena semua keputusan bermuara di pengadilan sehingga memerlukan waktu untuk menyamakan persepsi. 

Setelah diputuskan untuk dilakukan pertemuan pada minggu depan, sebagai penutup pihak PLN memberikan ruang bagi perwakilan warga untuk menyampaikan statement penutup yang diwakilkan oleh Sumarni. Dalam statementnya Sumarni membeberkan ke delapan tuntutan warga untuk PT. PLN (Persero) Area Yogyakarta.

Dalam tuntutannya warga meminta PLN agar memenuhi hak-hak 37 rumah warga atas supply listrik yang diputus secara sepihak selama 5 bulan terakhir. Mengingat hubungan warga dan PLN adalah bersifat kontraktual. Dari pemutusan listrik menyebabkan warga harus menggunakan genset untuk keperluan aktivitas sehari-hari, padahal beban biaya genset lebih besar dibanding kebutuhan pokok pangan.

Sebagai pendamping dan relawan Haidar memberikan semangat untuk warga juga relawan agar tetap konsisten mengawal kasus ini. Karena masih akan berjuang di hari selasa untuk mendegarkan putusan dari pihak PLN. Sesuai target waktu yang diberikan pihak PLN, jika keputusannya masih mengambang maka warga semaksimal mungkin akan tetap melakukan upaya baik itu litigasi, maupun aksi masa bahkan menduduki PLN. Hingga sekitar pukul 21.30 WIB akhirnya niatan warga untuk bertahan di Kantor PLN diurungkan. Satu persatu warga mulai meninggalkan kantor PLN. Selain menyalahi aturan batasan waktu menyatakan aspirasi di ruang publik, juga untuk mempersiapkan dalam menghadapi putusan di hari Selasa.

Soal resiko, memang kita prioritaskan warga yang datang dari Temon. Kedepan perjuangan lebih panjang lagi seperti pengosongan lahan, ini hanya sebagian kecil namun tetap harus di kawal,”jelas Haidar.