Kasus Kekerasan Terhadap Istri dan Pacar Masih Mendominasi
Hukum & Kriminal

Kasus Kekerasan Terhadap Istri dan Pacar Masih Mendominasi

Tegalrejo,(jogja.sorot.co)--Berbagai kasus yang menjadikan sosok perempuan menjadi korban masih marak terjadi di DIY. Anggapan perempuan adalah sosok lemah dan minor masih melekat seiring kasus-kasus tersebut mulai muncul ke permukaan.

Seperti berbagai kasus yang kini ditangani Rifka Annisa di wilayah DIY dan sekitarnya. Hingga Maret 2018 laporan yang masuk didominasi kasus kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri. Dari klien yang mengadu ke Rifka Annisa, terdata periode Januari hingga Maret 2018, kasus kekerasan terhadap istri berada di peringkat utama yaitu 56 kasus. Disusul kasus kekerasan dalam pacaran sejumlah 11 kasus. Itupun baru yang terekap oleh Rifka Annisa, padahal diluar sana masih ada kasus serupa, namun banyak yang enggan bersuara maupun melapor.

Disampikan oleh Humas Rifka Annisa, Dewi Julianti bahwa faktor pemicu kekerasa terhadap istri ialah adanya budaya patriarki yang telah banyak diyakini dan dianut masyarakat. Dalam konsep patriarki, laki laki melulu dianggap memiliki peran di atas perempuan. Sehingga perempuan lebih rentan.

Misal dengan kasus pendapatan perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Ini membuat laki-laki merasa direndahkan oleh perempuan, sedangkan sebenernya hal itu tidak akan mengarah pada perselisihan ketika keduanya bisa mengkomunikasikan dengan baik,” jelas Uli panggilan akrabnya, Rabu (11/04).

Kondisi lingkungan menjadi faktor utama yang memberi pengaruh terhadap perilaku kekerasan terhadap istri. Uli juga menyampakan bahwa seharusnya dalam rumah tangga, pasangan berpikir ulang soal tujuan dan komitmen awal pernikahan. Rifka Annisa melalui konselornya hanya bersifat menjembatani, tidak bisa memutuskan pilihan untuk klien dalam kasus ini. 

Disamping kasus kekerasan terhadap istri atau kekerasan dalam rumah tangga yang mendominasi, kasus kekerasan terhadap pacar nyatanya menduduki peringkat dua. Anggapan remaja ketika berpacaran adalah memiliki kekasihnya sepenuhnya dan cara berpacaran yang melenceng adalah beberapa faktor yang memicu terjadinya kekerasan. Beberapa remaja terbuai akan bujuk rayu dan janji palsu yang mengarah pada hubungan seksual dan ketika dari salah satu pihak menolak, akan ada tekanan yang dimunculkan.

Kurangnya peran orangtua sebagai teman bernaung bagi anak, menjadikan anak beralih kepada teman yang bisa jadi menjerumuskan si anak ke pergaulan yang tidak baik. Dengan begini, orangtua justru harus turut andil dalam pengawasan terhadap anak.

Tekanan dari teman dekat, jadi ada kegalauan. Sehingga budaya asertif (kemampuan untuk mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan keinginan secara jujur kepada orang lain tanpa merugikan orang lain) ini oleh remaja harus dibiasakan, meskipun ungkapan menolak bukanlah hal yang mudah,” jelas Uli.

Selain kekerasan fisik, ada bentuk-bentuk kekerasan lainnya yang tak disadari. Seperti kekerasan secara psikis dengan makian misalnya. Kekerasan secara ekonomi, kekerasan seksual, dan kekerasan sosial. Dinamika kekerasan saat ini, sudah banyak korban yang mulai berani melaporkan bahkan meminta pendampingan psikologis.