Inovasi Padi Belut Tampil Dalam Gelar Potensi Pertanian
Peristiwa

Inovasi Padi Belut Tampil Dalam Gelar Potensi Pertanian

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Bertempat di halaman Balaikota Yogyakarta, event Gelar Potensi Pertanian 2018 resmi dibuka dengan mengaplikasikan tema pengembangan kampung lestari di Yogyakarta dengan pemanfaatan lahan pekarangan, Kamis (12/4/2018) pagi.

Gelaran potensi pertaninan ini diikuti oleh 14 kecamatan, 5 asosiasi, dan beberapa forum gabungan kelompok tani. Selain menampilkan pameran tanaman hias dan tanaman pangan, juga menyuguhkan hasil produksi yang berbahan baku dari hasil pertaninan yang dikelola UMKM.

Secara simbolis Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, bersama Plt. Dinas Pertanian dan Pangan serta dari Kodim 0734 melakukan pemotongan padi.

Pemkot Yogyakarta sangat mengapresiasi event ini karena bisa memotivasi penggiat pertanian dan pangan dalam menjaga ketahanan pangan di Yogyakarta. Serta nantinya bisa menjalin kemitraan yang saling menguntungkan dan tentunya meningkatkan produktifitas dan mutu produk yang dihasilkan.

Seperti inovasi yang dilakukan oleh kelompok tani perkotaan Sidodadi yang mencetuskan kampung pangan lestari di Tompeyan, Kecamatan Tegalrejo.

Ketua kelompok tani perkotaan Sidodadi, Eka Yulianta menginiasi adanya kampung pangan dengan menanam padi belut di pot berbentuk persegi panjang. Pot-pot berisi padi belut ditempatkan di sepanjang lorong jalan. Sehingga jauh dari kata pemanfaatan lahan yang luas untuk bertani.

"Di kota itu permasalahan lahan, dengan ini bisa buat tingkat 3 tingkat 4 masih bisa. Dibikin rak masih bisa. Lebih hemat tempat. Sehingga bisa panen padi di kota bukan omong kosong," jelas Eka.

Beras belut ini masuk kategori beras organik karena selama proses penanaman hingga panen tidak tersentuh pupuk kimia. Sehingga kualitasnya berbeda dengan beras di sawah pada umumnya. 

"Semuanya alami tanpa pupuk pabrik. Media tanam, batang padi batang pisang kita busukkan terus pupuk kandang kemudian kompos daun kita fermentasi kita masukin dikasih air, seminggu baru tanam padi. Tiga minggu baru dikasih belut," ujar Eka.

Selain bulir padi yang dihasilkan dari beras belut lebih berat juga memiliki kadar air yang rendah daripada yang dipanen di sawah.

Fungsi belut diawal hanya untuk menghindari jentik-jentik nyamuk namun ternyata ada fungsi lain yang bisa dimanfaatkan warga yaitu untuk dikonsumsi. Sehingga warga bisa memanfaatkan beras dan lauk dari belut konsep tanam padi belut yang kreatif tersebut.

Selain karena perawatan belut yang tidak rumit, masa panennya terbilang cepat yakni sekitar 47 hari. Satu pot kecil biasa diisi dengan 6 ekor belut, sedangkan pot besar bisa sampai 8 ekor.

Sementara ini, padi belut hanya untuk dikonsumsi masyarakat Tompeyan sendiri, meskipun banyak masyarakat luar yang meminta untuk membeli beras tersebut. Jika dijual di pasaran, harganya bisa dua kali lipat dari harga umumnya yaitu sekitar di atas Rp 30 ribu.