Kritisi Peran Pemerintah dalam Hal Kebersihan di Kota Pelajar, Kelompok Ini Pilih Lakukan Garukan
Komunitas

Kritisi Peran Pemerintah dalam Hal Kebersihan di Kota Pelajar, Kelompok Ini Pilih Lakukan Garukan

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Berangkat dari keresahan masyarakat akan banyaknya sampah yang berserakan di Kota Yogyakarta, membuat segelintir pemuda ini menginisiasi sebuah gerakan yang dikenal sangat masif di kalangan masyarakat Yogyakarta. Kini gerakan itu dinamai Garuk Sampah.

Bukanlah sebuah komunitas yang menginisiasi gerakan tersebut, melainkan dari perseorangan yang kian menebar virus peduli terhadap lingkungan hingga menjadi rutinitas kegiatan yang kian familiar di mata masyarakat.

Nama Garuk Sampah sendiri terbilang unik dan cukup lekat dengan istilah lokal. Yang mana masyarakat Yogyakarta biasa menyebut istilah sweeping atau razia dengan garukan. Dari sana akhirnya ide penamaan Garuk Sampah muncul yang secara harfiah diartikan sebagai sweeping sampah atau merazia sampah dalam jumlah banyak.

Awalnya, mereka lebih fokus di kawasan wisata sejak dibentuk pada tahun 2015 silam. Dengan harapan bisa mengedukasi wisatawan khususnya dari luar DIY sekaligus menyebarkan informasi bahwa di Kota Yogyakarta masih ada anak-anak yang peduli dengan kotanya, sehingga bisa menumbuhkan rasa sungkan untuk membuang sampah sembarangan.

Hingga pada akhirnya saat ini rutinitasnya mulai dilakukan menyeluruh di kawasan persimpangan jalan di Yogyakarta. Sengaja memilih lokasi yang banyak dilintasi orang supaya ada rasa ingin tahu dan ketertarikan dari orang yang kebetulan melintas. Gerakan-gerakan tak hanya berhenti pada membersihkan sampah, tapi juga mengkritisi peran pemerintah dalam kaitannya kebersihan lingkungan. Selain itu, dalam kegiatan pawai budaya atau karnaval, kehadiran garuk sampah tak perlu dipertanyakan. Biasanya mereka menyusup di kemaraian untuk membersihkan sampah-sampah pasca acara.

Visi-misi Garuk Sampah awalnya berbau kritikan keras yang ditujukan kepada Pemerintahan dan masyarakat. Teruntuk Pemerintah yang kurang bijak dalam menegakkan peraturan, kepada masyarakat yang tidak menaati peraturan. Makin tahun arusnya berubah mengikuti pastisipan yang mayoritas adalah mahasiswa. Arah kegiatan yang anarki berubah menjadi kegiatan yang sarat budaya gotong royong.

Garuk Sampah mengusung budaya kearifan lokal dengan memperkenalkan budaya gotong rotong yang kian tak terlihat melalui kegiatan rutin membersihkan sampah,” kata Bekti Maulana, sang koordinator Garuk Sampah, Jumat (13/04).

Mereka biasa melakukan rutinitas menggaruk sampah ini setiap Rabu malam. Selain karena banyak partisipan yang punya waktu luang di hari itu, Rabu diakronimkan sebagai merawat bumi. 

Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional 2017 gerakan garuk sampah mulai menyasar sampah visual. Karena sampah visual dianggap sebagai sumber terbesar kedua setelah sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan. Dengan membuat gerakan baru Mas Terampil atau masyarakat peduli terhadap rambu lalu lintas dan APILL. Fokusnya adalah pembersihan tiang APILL juga tiang lampu-lampu penerangan yang kerap kali dijadikan sasaran pemasangan iklan. Meski tak jarang mendapat perlakukan yang tidak baik dari penyelenggara iklan. Seperti cacian bahkan perlakukan fisik.

Pertengahan 2017, garuk sampah menyoroti sebuah iklan sampah visual yang waktu itu dianggap pemasangannya salah dan memiliki konten yang fulgar. Tak tinggal diam, dengan melaporkan pelanggaran etika pariwara tersebut ke pihak-pihak terkait hingga blow up media.

Biasanya, jika jumlah sampah yang digaruk terbilang banyak, setelahnya akan dilakukan pilah sampah. Dari sampah visual, organik, anorganik dan sampah yang bernilai rupiah. Jika jenis sampah yang bernilai rupiah cukup banyak akan disumbangkan ke pemulung. Sedang kas dari iuran dipakai untuk mendukung pembelian perlengkapan garuk sampah .

Besar harapan, gerakan garuk sampah ini lekas tiada. Menjadi indikator bahwa masyarakat Yogyakarta sudah peduli dengan sampah dan lingkungan.