Gunakan Pewarna Alami Nila, Koleksi Galeri Batik Jawa akan Tampil di Swedia
Budaya

Gunakan Pewarna Alami Nila, Koleksi Galeri Batik Jawa akan Tampil di Swedia

Jetis,(jogja.sorot.co)--Tahun 2014 Yogyakarta ditetapkan oleh World Craft Council sebagai Kota Batik Dunia. Maka darinya, para pegiat dan pencelup batik yang tergabung dalam galeri batik Jawa bergelora mengemas agenda satu dekade kebangkitan indigofera Indonesia pada Rabu (09/05) di Mustokoweni The Heritage Hotel. Hal ini dimaksudkan untuk menunjung tinggi kembali aset batik dengan pewarna alami yang kian memudar.

Puluhan model unjuk kebolehan mengenakan busana batik yang berwarna selaras dengan motif serupa yaitu kembang kopi. Batik yang dihasilkan tak lain adalah menggunakan pewarna alami indigo atau nila. Pewarna alami seperti nila merupakan produk ekspor dari nusantara ke Eropa yang bernilai jual sangat mahal, sehingga muncul sebutan Emas Biru.

Ironisnya, filosofi batik dan motif batik di Indonesia yang dipuja di belahan dunia, justru ketika kebangkitan nasional yang semakin tinggi, berbading terbalik dengan keberadaan pewarna alami yang kian terpuruk

Disampaikan oleh Sita Adishakti yang juga seorang Art Director Galeri Batik Jawa, setelah tahun 1897 pewarna kimia diketemukan berakibat punahnya industri penanaman nila atau indigofera.

"Hasil karya batik yang ditampilkan, akan kami bawa ke Swedia untuk tampil di dalam the colours of Indonesia," ujarnya.

Batik Indonesia yang menggunakan pewarna alami, akan lebih mendapat pujian dari mancanegara karena nilai filosofis batik dan mengarah pada bentuk pelestarian. 

Lanjut Sita, dalam pertemuan dunia yang menjadi masa depan kerajinan adalah kerajinan tangan dan kembali ke alam. Dengan menggunakan pewarna alami dalam membatik juga turut menghidupi petani nila dan pencelupnya.

Gerakan pembatikan dengan pewarnaan alami adalah bagian dari kebangkitan nasional. Pasalnya, Kelahiran Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Yang mana Boedi Oetomo di awal pergerakannya tidak dapat dipisahkan dari tenun dan batik dengan mendirikan sekolah penenunan.