Letusan Freatik 11 Mei Mirip Freatik Pasca Letusan Merapi Tahun 1872 dan 1930
Peristiwa

Letusan Freatik 11 Mei Mirip Freatik Pasca Letusan Merapi Tahun 1872 dan 1930

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Erupsi Freatik Merapi yang menggegerkan warga di sekitaran Gunung Merapi pada Jumat (11/05) lalu nyatanya masih menjadi perbincangan oleh para peneliti badan geologi. Pasalnya Merapi sudah mengalami masa istirahat berjalan 8 tahun setelah letusan hebatnya di tahun 2010. Banyak dari beragam kalangan yang ingin mengetahui lebih jauh tentang letusan freatik. Atas permintaan, pada minggu sore (20/05) badan geologi BPPTKG DIY menggelar agenda KupasTuntas Erupsi Freatik Merapi, Minggu (20/5).

Kasi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso, memaparkan beberapa informasi dan analisa tim terkait letusan freatik dan kemungkinan yang terjadi. Letusan freatik yang terjadi pada 11 Mei lalu merupakan letusan freatik yang ke tujuh setelah fenomena letusan dahsyat di tahun 2010. Data dan riset BPPTKG membuktikan bahwa letusan freatik terhebat setelah letusan hebat 2010 terjadi pada 18 november 2013 yang mengakibatkan kubah lava terbelah.

Disampaikan oleh Agus Budi Santoso, sangat sulit untuk memberikan peringatan dini karena alat tidak bisa mendeteksi pergerakan sebelum erupsi freatik. Hasil rekapan 6 letusan freatik sebelumnya parameter letusan freatif tidaklah konsisten. Ada letusan yang didahului dengan hujan, dan adapula letusan yang di dahului dengan gempa. Sehingga beberapa parameter tersebut tidak bisa dijadikan acuan atau dasar peringatan dini.

Sesuai data pemantauan seismik 2011-2018 kelima jenis gempa di Gunung Merapi seperti gempa TT (tektonik), LF (gempa dangkal), RF (rock fall /gempa guguran), MP (multiphase), dan VT (vulkanik) kelimanya tidak menunjukkan adanya precursor (tanda/pendahuluan) menjelang letusan freaktik yang terjadi.

Tapi kombinasi adanya gempa-gempa tersebut ini bukan satu-satunya yang terjadi saat ini. Jadi minggu sebelumnya sudah terjadi seperti ini dan tidak diikuti oleh letusan freatik, sehingga ini sulit dikatakan sebagai precursor,” jelas Agus Budi Santoso.

Sebelum letusan freatik 11 Mei lalu, dalam seminggu terakhir terekam telah terjadi VT 1x/hari, MP 1x/hari, RF 3x/hari. Dalam paparannya Kasi Gunung Merapi BPPTKG tersebut mencoba menganalisa dengan menyandingkan dengan letusan besar yang mirip dengan letusan di 2010. Lalu didapati 2 kasus terakhir yakni letusan di tahun 1872 dan tahun 1930 . Agus Budi bergumam, 8 tahun Merapi belum meletus dan justru meletup kecil-kecil melalui letusan freatik. 

Dari situ kita bisa membandingkaan ternyata fenomena yang terjadi pasca letusan tersebut ialah mirip, yaitu ada letusan-letusan freatik,” paparnya.

Ia juga berhasil menunjukkan kemiripan hasil foto letusan freatik tahun 1933 dengan tahun 2018. Namun, yang menjadi masalah dan pertanyaan adalah jika 1872 mempunyai tenggang masa istirahat 11 tahun sebelum akhirnya meletus di tahun 1883, sedangkan letusan di tahun 1930 memiliki masa tenggang 9 tahun sebelum akhirnya meletus di tahun 1939. Berikutnya yang menjadi pertanyaan, Merapi akan mengikuti tenggang masa 1872 atau di tahun 1930.

Jadi kita belum tahu apakah ini akan mengikuti yang 1930 yang 9 tahun, atau 1872 yang 11 tahun, kemungkinan akan mengikuti yang 1872,” jelas Agus Budi Santoso.

Dipaparkan pula oleh Guru Besar F.MIPA UGM, Kirbani Sri Brotopuspito, setelah erupsi besar 1872 dan 1930 yang diikuti oleh beberapa kali erupsi freatik dan kurun waktu 9-12 tahun kemudian berlanjut dengan erupsifreatomagmatik/magmatik. Masa istirahat Merapi untuk letusan magmatik sudah mendekati masa istirahat letusan 1872 (11 tahun) dan 1930 (9 tahun), sehingga perlu diupayakan optimalisasi pemantauan dan persiapan meningkatkan kapasistas pemangku kepetingan penanggulangan bencana Merapi dan juga masyarakat.

Apakah ada kemungkinan erupsi freatik diikuti oleh erupsi magmatik? Jawabnnya iya,” ujar Kirbani Sri Brotopuspito