Aktivitas Kegempaan Tinggi, Status Merapi Masih Waspada
Peristiwa

Aktivitas Kegempaan Tinggi, Status Merapi Masih Waspada

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Sejak ditetapkan status Merapi dari Normal menjadi Waspada, BPPTKG melakukan monitoring secara intensif terkait dengan aktivitas Merapi. Dari hasil pengamatan Rabu (23/05/2018) yang menonjol adalah terjadinya letusan freatik pada pukul 03.31 WIB.

Letusan tersebut juga teramati dari pos pengamatan Gunung Merapi Jrakah dan Kaliurang, dengan durasi kejadian 4 menit, dan tinggi kolom letusan 2000 meter yang kearah barat daya. Adapun dampak yang ditimbulkan atas letusan freatik tersebut adalah terjadinya hujan abu di wilayah kabupaten Magelang terutama di wilayah KRB II dan KRB III yakni Desa Keningar, Sumber, Dukun dan Kalibening.

Berdasarkan informasi dari BPBD kabupaten Magelang dan Pos PGM Ngepos, jangkauan abu hingga 25 kilometer sampai pada wilayah Borobudur.

Kasi Gunung Merapi Agus Budi Santoso, mengatakan, hasil pemantauan BPPTKG pada Selasa (22/05), tidak terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan dengan data kegempaan. Terjadi 2 kali gempa MP (multyphase), 1 kali gempa RF (Guguran) dan 2 kali gempa TT (tektonik).

Hari ini pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB, tercatat dengan data kegempaan 1 kali VT dan 2 kali gempa Tektonik. Gempa VT ergolong dangkal terjadi pada pukul 2.53 WIB tadi pagi,” jelas Agus Budi, Rabu siang.

Dibandingkan dengan freatik ketika 21 dan 22 Mei, jeda freatik kali ini terbilang semakin panjang. Jika freatik sebelumnya jedanya tak kurang dan tak lebih mirip yakni per 8 jam, freatik terakhir ini muncul berselang 26 jam kemudian setelah letusan freatik sebelumnya di tanggal 22 Mei. 

Jadi sisi letusan freatik jedanya semakin panjang, tapi kegempaan relatif tinggi karena kita mendapati ada gempa MP kemudian gempa VT yang menandakan adanya akumulasi tekanan yang cukup besar. Gempa VT muncul ada batuan yang pecah karena tekanan yang sangat besar,” lanjut Agus.

Adanya gempa tremor yang terjadi 21 mei yang melatarbelakangi adanya peningkatan status, dikatakan Agus Budi, untuk saat ini sudah tidak terjadi lagi. Namun untuk menyimpulan aktivitas merapi sudah turun atau justru naik masih diperlukan waktu untuk mengumpulkan data.

Dari tren yang terjadi setelah adanya freatik akan ada kemungkinan arah ke magmatik. Pihak BPPTKG, untuk membuktikan hal itu dengan melakukan analisa material abu yang ditimbulkan dari produkuk letusan freatik. Namun diakui Agus Budi saat ini belum ada hasil yang cukup meyakinkan.

Agus Budi kembali menegaskan bahwa status Gunung Merapi masih pada tingkat aktivitas wasapada, dengan radius bayaha 3 Kilometer dari puncak. Penduduk yang tinggal dan beraktivitas di luar radius 3 kilometer dapat terdampak abu letusan, namun tidak membahyakan jiwa. Bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan untuk menggunakan masker.