Terjadi Dua Kali Letusan Freatik, Visual Merapi Tertutup Kabut
Peristiwa

Terjadi Dua Kali Letusan Freatik, Visual Merapi Tertutup Kabut

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Pemantauan BPPTKG terhadap aktivitas Merapi pada Rabu 23 Mei mencatat telah terjadi letusan freatik sebanyak dua kali pada pukul 03.31 WIB dan pukul 13.49 WIB. Meski terjadi dua kali letusan freatik dalam satu hari, namun merapi masih dalam status waspada. Letusan pertama teramati dari pos pengamatan Gunung Merapi Jrakah dan Kaliurang, dengan durasi kejadian 4 menit dan amplitudo maksimum 55 mm serta tinggi kolom letusan 2000 M yang kearah barat daya.

Sedangkan letusan kedua yang terjadi pukul 13.49 WIB ini terbilang lebih lemah dari sebelumnya. Data rekaman seismik mencatat amplitudo maksimum letusan 70 mm dengan durasi yang lebih pendek yakni 2 menit. Serta suara gemuruh terdengar di pos PGM Babadan. Namun kolom letusan tidak dapat teramati dari semua pos PGM karena adanya kabut di sepanjang hari yang menghalangi pantauan visual.

Kasi Gunung Merapi BPPTKG, Agus Budi Santoso mengungkapkan, ada update data kegempaan setelah terjadi letusan kedua. Tercatat sebelumnya sampai pukul 06.00 WIB terjadi gempa VT 1 kali dan gempa TT sebanyak 2 kali. Sedangkan data kegempaan setelah terjadi letusan kedua, ada tambahan catatan terjadi 3 kali gempa MP.

Gempa MP terjadi di antara pukul 12.00 WIB sampai 18.00 WIB, kemungkinan setelah letusan yang kedua,” jelas Agus, Rabu malam.

Dari hasil analisa, Agus Budi Santoso menilai aktivitas merapi kali ini berbeda dengan aktivitas sebelumnya. Jika pada erupsi 2010 ketika magma menuju ke permukaan ditandai banyaknya VT dangkal yang terjadi secara intensif selama beberapa hari. 

Sehingga kalau hanya terjadi sehari, besok juga seperti itu sekali itu saja, tidak menandakan kalau magma itu sudah sampai di permukaan. Itu kasus yang dulu,” tandasnya.

BPPTKG terus mengamati perubahan perilaku Merapi dari parameter yang ada. Tetapi kata Agus Budi, berdasarkan referensi di tahun 2006 dan 2010 belum cukup untuk bisa disimpulkan bahwa magma mendekati permukaan.

Kita bisa bilang dari referensi yang ada, 2006 dan 2010 kecil kemungkinan kalau sudah sampai di permukaan di atas, masih sangat lemah sekali precursornya. Tidak seperti dulu. Tentu ada pergerakan tapi bahwa dia sampai permukaan ini agak spekulaif,” lanjutnya.

Agus Budi juga menyampaikan bahwa perubahan perilaku Merapi saat ini, sebenarnya tidak berubah. Tapi jika dibandingkan dengan letusan dalam 1 dekade, ada kemungkinan adanya perubahan. Berbeda lagi jika membandingkan perilaku saat ini dengan beberapa abad yang lalu. Kejadian seperti saat ini sudah pernah terjadi, bahkan mirip pasca letusan 1872 dan 1930.

Yang membuat berbeda dengan 1 dekade terakhir, dimana erupsi magmatik dari 2006 dan 2010 ditandai dengan aktivitas seismik deformasi tanpa didahului freatik. Yang sekarang ini tampak berbeda, dimungkinkan karena morfologi yang dihasilkan pasca Letusan.

Jadi pasca letusan 1872,1930 dan 2010 itu sama-sama membentuk kawah yang dalam sehingga sumbat dari magma, sumbat lava itu tidak setebal 2006 dan 2010. Dengan sumbat lava yang lemah ini memungkinkan untuk terjadinya pelepasan gas secara mudah yang terjadi sebagai letusan freatik,” jelasnya.