BPPTKG Prediksi Sifat Letusan Merapi Mengarah ke Erupsi Efusif
Peristiwa

BPPTKG Prediksi Sifat Letusan Merapi Mengarah ke Erupsi Efusif

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Hasil Analisis laboratorium BPPTKG menunjukkan bahwa letusan freatik yang terjadi pada 21 Mei berbeda dengan letusan freatik pada 11 Mei. Sampel produk letusan berupa abu yang diambil di lokasi Telogo Putri Kaliurang menunjukkan bahwa material letusan 21 Mei terususun atas komponen magmatik yang sifatnya lebih asam dibanding material yang diletuskan ketika 11 Mei.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, dalam siaran persnya, menjelaskan, hasil itu mengindikasikan material produk letusan 21 Mei adalah material-material baru yang berasal dari dalam Gunung Merapi. Bukan material-material lama yang berada di dalam kawah atau permukaan.

Ia menambahkan, karena karakter magmanya mudah melepaskan gas gas vulkanik, maka magma tidak membangun tekanan internalnya. Sehingga tidak terdeteksi adanya gejala perubahan bentuk pada permukaan tubuh gunung api baik penggembungan dan pengempisan (deformasi) maupun kegempaan yang signifikan.

Kondisi terakhir bahwa kegempaan tidak ada yang signifikan. Belum terindikasi kuat yang jelas kegempaan, deformasi belum ada indikasi yang kuat. Dibanding yang hari kemarin tidak ada deformasi yang kuat. Jadi ada deflasi, tapi masih merendah,” jelas Hanik Humaida.

Ditegaskan oleh Hanik Humaida, material baru ini adalah material yang berasal dari dalam. Adanya material magmatis dalam letusan 21 Mei menjadi awal dari proses magmatis. Namun disampaikan Hanik, ini hanyalah indikasi dari satu parameter. Masih ada parameter lain yang berbicara. Sehingga ia menegaskan ini proses menuju magmatis. 

Karena kalau magmatis bener inflasi mungkin sudah ada, ini kan masih deflasi, terus kemudian seismitasnya, vulkaniknya masih tetap. Ini masih belum jelas, apakah ini dalam artian sampai dimana magmatis akan bener-bener muncul ke permukaan magma ini,” lanjutnya.

Komposisi material tanggal 11 Mei 2018 lebih basa dibanding dengan 21 Mei 2018 karena merupakan produk akhir erupsi 2010. Sedangkan komposisi 21 Mei lebih asam, yang memiliki kemiripan dengan produk 2006 dan 2010.

Material yang di permukaan didobrak keluar pada erupsi 11 Mei yang merupakan produk akhir erupsi 2010. Kemudian pada tanggal 21 Mei terjadi erupsi lagi, materialnya dianalisis Free Crystal 94,74 dibanding material 11 Mei yang dikisaran angka 32,85. Hasil tersebut, mengindikasikan material magmatik sudah ada sejak tanggal 21 Mei.

Material yang dari dalam dibawa kepermukaan yang menghasilkan yang lebih asam tadi,” jelasnya.

Dengan adanya indikasi yang dinilai sangat lemah dari tingkat deformasi, sekarang ini dikatakan Hanik Humaida menuju ke erupsi efusif. Atau lebih jelasnya adalah erupsi yang sifatnya meleleh atau mengugurkan kubah lava karena tidak adanya presure (tekanan) atau gas yang sangat tinggi ke atas, sehingga bentuknya seperti leleran.

Tidak ada deformasi karena magmanya itu kemungkinan teriliskan dengan sangat pelan karena sifatnya encer, sehingga tidak cukup kuat mendorong konduit atau tubuh gunung api ini. Sehingga tidak memberikan deformasi yang cukup terhadap tubuh gunung api,” tegasnya.

Hanik melanjutkan bahwa sekarang ini menuju efusif dengan adanya indikasi yang sangat lemah. Magma menuju ke permukaan dengan lambat sekali dan encer, maka akan meleleh menuju ke efusif dan ada kemungkinan untuk membentuk kubah lava.

Hanik Humaida menghimbau, jangan membayangkan erupsi magmatis itu seperti ketika erupsi 2010 yang besar. Peristiwa 2006 itu juga tergolong magmatis. Sebagai gambaran, Merapi tahun 2002 juga tergolong magmatis tapi hanya menimbulkan kubah lava. Magmatis tidak melulu dengan letusan besar, karena pada dasarnya pengertiannya menurut Kepala BPPTKG adalah adanya material magma dari dalam yang menuju ke permukaan.