Bincang - bincang Peringatan 12 Tahun Gempa yang Bikin Yogyakarta Lumpuh
Peristiwa

Bincang - bincang Peringatan 12 Tahun Gempa yang Bikin Yogyakarta Lumpuh

Ngampilan,(jogja.sorot.co)--Tak bisa dipungkiri bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan wilayah rawan bencana. Baru-baru ini, masyarakat juga dihebohkan dengan geliat Gunung Merapi. Selain itu, ketika 2006 lalu masyarakat Yogyakarta juga menjadi saksi Gempa hebat yang mengguncang Yogyakarta.

Oleh karenanya pada sabtu (26/05) Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) mengadakan bincang-bincang terkait refleksi Gempa Bumi Yogyakarta 2006.

Seperti yang banyak media massa muat, gempa bumi berkekuatan 5,6 skala richter mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 silam. Gempa bumi kala itu mengakibatkan banyak korban meninggal dan kerusakan bangunan yang begitu parah.

MDMC PP Muhammadiyah sendiri adalah lembaga yang cikal bakalnya dimulai saat gempa Yogyakarta terjadi. Pada Refleksi Gempa Bumi Yogyakarta dilaksanakan di Aula Gedung Muhammadiyah Jalan K.H Ahmad Dahlan menghadirkan relawan-relawan kebencanaan yang pernah terlibat dalam penanganan bencana gempa bumi.

Disampaikan oleh Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, ketika terjadi gempa bumi 12 tahun silam masyarakat mempercayai sebuah kabar burung tentang akan terjadinya tsunami dari sisi selatan yaitu Pantai Parangtritis Bantul.

"Masyarakat yang termakan berita bohong tersebut banyak yang menjadi korban kecelakaan di jalan raya akibat kepanikan untuk menyelamatkan diri," ujarnya.

Cerita peristiwa gempa bumi di tahun 2006 menjadi pengingat hebat sekaligus semua insan bisa memetik pembelajaran yang baik dari proses penanganan bencana. Karena MDMC mencatat bahwa korban jiwa yang meninggal ketika terjadi bencana kebanyakan disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam meminimalisir kerentanan. 

Sementara itu Wahyu Heniwati dari Divisi Pengurangan Risiko Bencana dan Kesiapsiagaan yang juga menjadi pembicara berbagi cerita soal dirinya yang menjadi korban sekaligus relawan pasca gempa bumi. Keadaan ekonomi Yogyakarta ketika itu lumpuh. Hal tersebut yang menggerakkan Heni, panggilan akrabnya untuk membantu inisiasi pengembangan usaha kecil dan menengah.

"Waktu itu saya mengingatkan kepada masyarakat untuk mengurangi resiko bencana dan kerentanan sehingga meminimalisir dampak bencana," tutur Heni.

MDMC juga mencatat bahwa pengalaman tim yang bergerak selama proses pendampingan warga terdampak bencana gempa bumi melahirkan nilai-nilai agama. Dijumpai, masyarakat semakin dekat dengan ajaran agamanya masing-masing dan mulai rajin mengunjungi tokoh agama untuk mengobati luka batin akibat kejadian bencana.

Koordinasi dan sinergi antara organisasi otonom, majelis, dan lembaga terkait, dan insan yang membantu menjadi kunci keberhasilan penanganan gempa bumi Yogyakarta 2006.