Organisasi Wartawan DIY Kecam Kekerasan Suporter Terhadap Jurnalis Sorot Bantul
Hukum & Kriminal

Organisasi Wartawan DIY Kecam Kekerasan Suporter Terhadap Jurnalis Sorot Bantul

Jogja,(jogja.sorot.co)--Aksi kekerasan terhadap pekerja media kembali terjadi di Yogyakarta. Peristiwa itu menimpa jurnalis sorot.co, Edi Setiawan yang tengah melakukan peliputan di Stadion Sultang Agung Bantul, Minggu (5/6/) siang. Sekelompok yang diduga dari supporter Bonek melakukan pemukulan dan perampasan alat peliputan milik wartawan sorot bantul saat melakukan peliputan jelang pertandingan Persija Jakarta kontra Persebaya Surabaya.

Menyikapi hal tersebut, salah satu wartawan senior yang juga Sekretaris Dewan Kehormatan Daerah PWI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Primaswolo Sujono, menilai, peristiwa pengeroyokan Bonek kepada wartawan merupakan bentuk tindakan yang menghalang-halangi kebebasan pers. Pihaknya mendesak pihak kepolisian segera mengambil sikap tegas atas kehadiran Bonek sudah merugikan banyak pihak.

Ada baiknya Polda tegas untuk melarang kehadiran supporter yang liar. Bagaimanapun, kehadiran wartawan di Stadion Sultan Agung itu dalam upaya menjalankan tugas jurnalistik. Dan tugas mereka telah dijamin oleh Undang-Undnag No 40/1999 Tentang Pers. Yang jelas kami ikut prihatin atas kejadian kekerasan tersebut,” ujar Primaswolo Sujono, Senin (4/6/2018).

Sementara itu, Koordinator Advokasi AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta Tommy Apriando, juga turut mengecam tindakan biadap yang diduga dilakukan suporter Persebaya tersebut. Bonek telah melakukan pengeroyokan dan perampasan telepon genggam yang selama ini juga digunakan sebagai alat kerja jurnalistik tersebut. 

Tindakan para gerombolan pengeryok tersebut telah melanggar Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999. Undang-undang ini menegaskan, tindakan kekerasan terhadap jurnalis adalah perbuatan melawan hukum dan mengancam kebebasan pers.

Tindakan kekerasan ini menggambarkan gerombolan pelaku yang diketahui sebagai suporter bola itu buta terhadap aturan hukum, bahwa jurnalis bekerja dilindungi undang-undang dan tidak boleh ada upaya menghalang-halangi kerja jurnalis,” tutur Tommy Apriando dalam siaran persnya.

Dalam Undang-Undang Pers, lanjutnya, kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan informasi yang didapat kepada publik dilindungi undang-undang. Pasal 8 UU Pers dengan jelas menyatakan dalam melaksanakan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum. Pers mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial, seperti diatur Pasal 3.

Tindakan kekerasan terhadap jurnalis akan menghalangi hak publik untuk memperoleh berita yang akurat dan benar karena jurnalis tidak bisa bekerja dengan leluasa di lapangan. Jurnalis itu bekerja untuk kepentingan publik,” tegasnya.

Tommy menambahkan, gerombolan pelaku yang merampas alat liputan serta melakukan pemukulan terhadap jurnalis bisa dijerat Pasal 18 UU Pers karena pelaku secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalang-halangi kemerdekaan pers dan kerja-kerja jurnalistik. Ancamannya tak main-main, hukuman dua tahun penjara atau denda Rp 500 juta.

Menurut Tommy, masyarakat atau suporter sepak bola seharusnya tidak main hakim sendiri. Para pelaku seharusnya belajar lagi soal hukum yang melindungi kerja-kerja jurnalis. Bila keberatan dalam isi pemberitaan di media, gunakan mekanisme protes secara beradab dengan cara melaporkan jurnalis tersebut ke media terkait, atau melaporkan perusahaan media ke Dewan Pers.

Di sisi lain, AJI Yogyakarta juga mengimbau jurnalis mentaati kode etik jurnalistik dan bekerja profesional. AJI Yogyakarta juga mendorong pemimpin redaksi dan perusahaan media memperhatikan keselamatan dan keamanan jurnalisnya yang meliput aksi massa yang berpotensi konflik dan mengancam kerja-kerja jurnalistik dan keselamatan reporternya. Tak ada berita seharga nyawa. Perusahaan media juga harus bertanggungjawab terhadap keselamatan dan keamanan jurnalisnya yang sedang bertugas.

Atas insiden ini AJI Yogyakarta mendesak kepolisian Bantul menangkap pelaku pengeroyokan agar para pelaku diganjar hukuman setimpal. Meminta para pelaku dan otoritas organisasi Suporter Persebaya alias Bonek meminta maaf kepada korban serta media yang bersangkutan terkait kejadian yang memalukan ini,” tambahnya

Selain itu, Aji Yogyakarta juga meminta otoritas perusahaan media memberi perlindungan penuh kepada jurnalisnya yang bekerja di lapangan. Selanjutnya, meminta para jurnalis agar bekerja secara profesional dan beretika di lapangan sehingga tak ada pelanggaran kode etik yang dilakukan.

Sementara itu, mengalami tindakan kekerasan tersebut, Edis, sapaan akrab jurnalis sorot.co itu sudah resmi membuat laporan polisi ke Mapolres Bantul. Hingga saat ini, pihak penyidik Satreskrmim Polres Bantul masih melakukan upaya penyelidikan terhadap kasus yang menimpanya.