Aktivitas Relatif Landai, BPPTKG Belum Berani Turunkan Status Merapi
Peristiwa

Aktivitas Relatif Landai, BPPTKG Belum Berani Turunkan Status Merapi

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Dalam siaran persnya Rabu (06/03/2018), BPPTKG menyampaikan secara detail kronologi letusan Merapi pada tahun 2006, 2010 dan 2018 berdasarkan peninjauan precursor. Catatan sejarah mengemukakan pola kronologi letusan jelang letusan 2006 dan 2010 hampir sama, dengan memberikan precursor yang jelas ditandai peningkatan kegempaan dan deformasi. Sedangkan pada letusan 2018 tidak memberikan precursor yang jelas dan hanya didominasi aktivitas pelepasan gas.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida menuturkan pada erupsi 2006 diawali dengan pertumbuhan kubah lava yang selanjutnya diikuti dengan adanya awan panas. Tahun 2006, VEI atau Vulcanic Explosivity Index yang dugunakan untuk mengukur kekuatan dan besaran relative letusan gunung nilainya adalah 2.

Seismitas atau kegempaan 2006 VT itu mulai naik itu pada bulan Juli. Gejalanya bulan juli 2005 sudah kelihatan,” ujar Hanik.

Tercatat, pada tanggal 15 Maret 2006 BPPTKG menyatakan status Merapi pada level 2 Waspada. Hingga pada 12 April status Merapi naik menjadi Siaga, kemudian muncul kubah lava pada 26 April kemudian BPPTKG mengambil sikap untuk menaikkan status menjadi Awas pada 13 Mei. Catatan di erupsi 2010 VEInya adalah 4, digambarkan dengan kolom letusan awan panas. Kemudian erupsi diawali dengan letusan explosive. Dari 21 Oktober 2010 status Merapi dinaikkan menjadi Siaga karena EDMnya 42 cm/hari dari sebelumnya 16cm/hari. Yang diartikan adanya desakan dari dalam. 

Meski memiliki pola kronologi jelang yang sama, tapi intensitas dan data kegempaan dan deformasi letusan 2010 lebih tinggi dari 2006,” ungkapnya.

Sedangkan resume letusan 11 Mei hingga 1 Juni 2018 menunjukkan sejak letusan pertama hingga sepuluh didominasi oleh pelepasan gas. Warna letusan secara umum berwarna putih keabu-abuan dan material abu yang terbawa oleh letusan berasal dari perombakan material lama.

Letusan pertama 11 Mei tidak diawali dengan precursor yang jelas. Kemudian seri letusan 21-24 Mei terekam peningkatan gempa hembusan yang menggambarkan pelepasan gas,” jelas Hanik Humaida.

Meski aktivitas Merapi terbilang landai, ketika masih ditemukan gempa hembusan maka BPPTKG tidak lantas berani menurunkan status Merapi kembali ke level I Normal.

Disampaikan pula oleh Hanik Humaida bahwa letusan 2006 menghasilkan material letusan <10 juta m3 dengan jarak luncur awan panas mencapai 7 kilometer. Letusan 2010 menghasilkan material letusan 130 juta m3 dengan jarak luncur awan panas 15 kilometer. Sedangkan perbandingannya sangat jauh dengan Letusan Mei-Juni 2018 yang menghasilkan material letusan <100 ribu m3 dengan lontaran material jatuhan dalam radius 3 kilometer.

Letusan Merapi 2006 dan 2010 mempunyai precursor yang jelas mulai awal kenaikan aktivitas yang ditunjukan oleh semua parameter pemantauan, sedangkan letusan Mei-Juni 2018 hanya menunjukkan adanya aktivitas pelepasan gas yang ditujukkan oleh gempa MP (Multypahse), RF (Guguran) dan Hembusan. Namun letusan freatik yang terjadi bisa menjadi indikasi untuk aktivitas berikutnya.