Rumah Sakit Sardjito Sediakan Layanan Teknologi Simpan Beku Embrio untuk Bayi Tabung
Sosial

Rumah Sakit Sardjito Sediakan Layanan Teknologi Simpan Beku Embrio untuk Bayi Tabung

Gedongtengen,(jogja.sorot.co)--Sebagai rumah sakit pionir di Indonesia yang memberikan layanan program bayi tabung, RSUP Dr. Sardjito lebih dari 10 tahun menerapkan terobosan dengan teknologi simpan embrio beku. Tercatat, hingga sampai saat ini lebih dari 200 bayi tabung dilahirkan di klinik Infertilitas RSUP Dr. Sardjito.

Teknologi simpan beku embrio ini muncul untuk menyimpan sejumlah embrio yang berlebihan dari hasil pembuahan bayi tabung. Disampaikan oleh Dr. Shofwal Widad, SpOGK, Kepala Instalasi Kesehatan Reproduksi RSUD Dr. Sardjito bahwa jika diumpamakan pada bayi tabung terdapat empat embrio yang terbentuk, dan yang dimasukkan ke dalam Rahim sebagai media tanam hanya dua embrio, maka akan tersisa dua. Dengan RS bisa menyimpan embrio di tanki khusus dengan pengaturan suhu dan pemberian nitrogen cair yang sesuai , maka sisa embrio bisa ditanam kembali. Embrio bisa langsung ditanam tanpa harus mengulangi proses dari awal yaitu mulai pengambilan sel telur hingga ke pembuahan.

Tinggal bagian belakang aja yang diulang, ambil dari simpan beku dihangatkan kembali kemudian sudah siap tinggal menanam. Rata-rata 2 sampai 3 tahun sudah menanam lagi,” ujar Dr. Shofwal Widad, dalam siaran persnya Jumat (08/06).

Embrio-embrio yang berlebih yang tidak di transfer ke rahim tersebut dapat disimpan dengan berbagai teknik pembekuan menggunkan cairan nitrogen beku yang bisa digunakan atau ditanam apabila diperlukan. Atau dengan kata lain ada bayi yang sebenarnya kembar, namun dilahirkan dengan waktu yang berbeda tahun. 

Di Indonesia, data 2012 menunjukkan ada bekisar 8 juta pasangan infertil atau mengalami gangguan pada kesuburan. Dan 2,4 juta (12%) membutuhkan penanganan fertilisasi. Namun, dari angka sekian dari pasangan infertil yang mendapat akses penanganan fertilisasi kurang dari 1%. Hal ini dipicu karena kurangnya informasi dan beberapa menganggap bahwa upaya program bayi tabung adalah jika dikaitakan dengan pembiayaan terbilang tidak murah.

Rinciannya gini, dihitung dari awal program memacu telur sampai menanam, ada 10 tahapan. Biaya pasien itu 50 juta. Dan butuh waktu 16 hari saja dan tidak mondok di rumah sakit,” jelasnya.

Seperti yang disampaikan oleh Dr. Shofwal Widad, tingkat keberhasilan bayi tabung yang telah ditangani tercatat rata-rata 30%. Namun, secara spesifik tingkat keberhasilan bervariasi karena bergantung pada usia pasien terutama usia calon ibu. Adapun fakor sehingga perlu dilakukan program bayi tabung di antaranya faktor saluran telur yang tidak memungkinkan dilewati untuk pembuahan. Lalu juga soal kualitas dan kuantitas sperma, yaitu konsentrasi kurang dari 5 juta/ml, sedangkan pada jumlah normal 15-20 juta/ml. Kemudian pasien yang mengalami endometriosis atau penyakit yang ditandai kesakitan saat menstruasi yang menyebakan pelengketan pada organ reproduksi.

Dr. Shofwal Widad juga menyampikan bahwa ada 20 klinik bayi tabung di Indonesia, dan Yogyakarta satu-satunya berada di RSUP Dr. Sardjito. Dalam satu bulan, ada sekitar 25 pasien yang meminta layanan program bayi tabung di RSUP Dr. Sardjito. Program layanan bayi tabung dengan tekonologi simpan beku ini mengerahkan beberapa ahli. Yaitu ahli kebidanan, spermatologi, urologi, embriologi dan genetika.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Moch Anwar SpOGK, M.Med Sc, Guru Besar Departemen Obstetri Ginekologi FKKMK UGM mengutarakan soal problema yang dihadapi saat ini. Meski program bayi tabung sudah masuk dalam Peratuan Menteri Kesehatan, namun urusan sisa embrio masih menjadi persoalan. Jika sisa embrio tidak digunakan dan memunculkan inisiatif untuk dibuang maka akan dilarang dengan dalih pembunuhan. Jika diperuntukkan untuk riset juga tidak diperbolehkan. Ketika muncul opsi diberikan kepada orang lain meskipun atas persetujuan pemilik embrio, nanti dikhawatirkan akan berurusan dengan hukum agama.

Antar bayi tabung dengan etik ini, kejar kejaran belum bisa dipecahkan. Ya hingga saat ini kita simpan embrionya,” ungkap Prof. Moch Anwar.