Layanan Bank Tutup, Jasa Penukaran Uang di Jalan Senopati Diserbu Warga
Peristiwa

Layanan Bank Tutup, Jasa Penukaran Uang di Jalan Senopati Diserbu Warga

Gondomanan,(jogja.sorot.co)--Pemandangan di Jalan Senopati memang identik dengan lapak-lapan akik dan figura. Namun agak berbeda setelah memasuki momentum bulan Ramadan atau menjelang Harei Raya Lebaran. Jasa penukaran uang baru, berjejer di sepanjang Jalan Senopati mulai dari lampu merah nol kilometer hingga lapak penukaran uang yang bedekatan dengan pintu masuk TBY (Taman Budaya Yogyakarta).

Ada sekitar belasan orang yang memilih untuk mengais rezeki dengan memberikan jasa penukaran uang di Jalan Senopati. Salah satunya adalah Anung. Dikatakan Anung, ia mengambil barang dalam hal ini adalah uang dari Bos yang berada di Semarang, Purwokerto, Pekalongan dan Solo.

Ia sudah menjalani rutinitas musiman jelang Lebaran ini sekitar 12 tahun, dan merupakan pionir jasa penukaran uang di Jalan Senopati. Sehingga dalam masyarakat sudah terbentuk positioning, jika ingin menukarkan uang hendaknya pergi ke Jalan Senopati. Sampai saat ini Anung sudah 4 kali mengambil barang. Nominal setiap pengambilan bisa mencapai Rp. 20 Juta hingga Rp. 30 Juta.

Dari Bos sudah kena cash, kita ya menyesuaikan lah. Nek ini kebetulan sama, cashnya Rp. 10.000. Ngambil dari Bos kena Rp.6000, Rp. 7000,” jelasnya.

Setiap paket uang baru yang telah di kemas berdasarkan kelompok nominalnya, akan dihargai dengan jumlah seluruh nominal ditambah cash Rp. 10.000 sebagai laba. Diakui Anung, dulu ia biasa menukarkan di Bank, dengan mengantri lalu diecerkan di jalan. Setelah ada penawaran tanpa mengantri, ia mengambil barang dari Bos. Ia akan kembali mengambil barang sesuai dengan kemampuan. 

Hal ini dinilai oleh para pembuka jasa penukaran uang sebagai peluang yang bagus. Pasalanya rata-rata dalam sehari jika sebelum bank tutup, jasa penukaran uang bisa menukarkan uang Rp. 7 Juta per harinya. Dengan kondisi bank yang sudah tutup seperti saat ini, jasa penukaran uang dalam seharinya bisa menukarkan uang Rp. 12 Juta hingga Rp. 15 Juta.

Terlihat, tak sedikit pengendara yang menepi untuk menukarkan uangnya. Salah satunya adalah Ahmad Faruq. Ia mengaku, ketika harus menukarkan di Bank ia harus mengantri apalagi karena terhalang pekerjaan ia tidak bisa menyempatkan untuk menukarkan uang di Bank. Adanya jasa penukaran uang ini dianggap Faruq sebagai opsi ketika mendesak butuh jasa penukaran uang.

Tadi saya nukar 800 Ribu. Ya kita menganggap itu sebagai jasa. Satu sisi membantu, terkadang kalau kepepet gak pengen juga,” ujar Faruq.

Dengan tambahan cash Rp.10.000 per kemasan uang dianggap Faruq mau tidak mau harus sepakat karena itu menjadi laba mereka atas jasa yang mereka tawarkan. Ibarat kata menurut Faruq, uang untuk membayar jasa penukar uang.