PHK Sepihak dan Tahan Ijazah Mantan Karyawan, Pengusaha Salon Kecantikan Digugat
Hukum & Kriminal

PHK Sepihak dan Tahan Ijazah Mantan Karyawan, Pengusaha Salon Kecantikan Digugat

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Kasus penahanan ijazah oleh Topsy Salon terhadap dua pekerjanya terus bergulir di Pengadilan Tipikor dan Hubungan Industrial Yogyakarta. Pihak penggugat yakni dua karyawan Topsy Salon menggugat kasus pada awal 2018, dengan isi gugatan perselisihan hak dalam hal ini ijazah, pesangon, dan sisa kontrak yang belum dibayarkan.

Menurut informasi dari Sekjen Aliansi Buruh Yogyakarta (ABY), Kirnadi mengatakan, bahwa dua pekerja di Topsy Salon ditahan ijazahnya setelah dinyatakanan di PHK pada Mei 2017 atau sebelum kontrak berakhir. Namun ketika pekerja atas nama Theresia Isworowati (23) dan Desniati Munawaroh (22), meminta hak atas ijazahnya untuk dikembalikan, pihak tergugat tidak berkenan mengembalikan. Dengan dalih alasan pekerja harus terlebih dulu membayar sisa kontak.

Satu langkah hukum yang diambil, gugatan, laporan polisi karena sudah melakukan penggelapan ijazah kepada penggugat,” jelas Kirnadi, Selasa (26/6/2018).

Menurut Kirnadi, keduanya dinyatakan diputus hubungan kerjanya hanya melalui pesan singkat yang berbunyi bahwa mereka tidak perlu lagi masuk kerja. Dari pengakuan salah seorang penggugat, Theresia Isworowati, kasus PHK itu bermula dari adanya keterlambatan gaji. Sehingga ia menuliskan status di whatsapp yang intinya berisi ‘Karyawan diminta tertib tapi dirinya sendiri tidak tertib’. Hingga akhirnya, tulisan tersebut di screenshot oleh supervisor dan dikirimkan ke owner. 

Saya dapat pesan intinya saya dan desi tidak boleh menginjakkan kaki karena bukan karyawan lagi. Itu 28 April. Kontrak saya 5 tahun, berjalan 2 tahun. Desi 3 tahun baru jalan 7 bulan,” jelas Theresia.

Theresia juga menuntut, karena ijazahnya kini dialihkan ke koperasi sejak ia dikeluarkan. Ia menyayangkan karena tindakan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan seizin dirinya dalam memindahtangankan dokumen penting tersebut.

Saya mau tindak lanjutnya ke pidana. Yang disayangkan memindahkan ijazah tanpa seijin saya,” tambah Theresia.

Menurutnya, alasan pihak perusahaan mem PHK dirinya dan satu orang pekerja lainnya karena sering menanyakan soal keterlambatan gaji tiap bulannya. Lalu menuliskan kegeramnnya terhadap pimpinannya di status whatsapp. Hingga berujung ke pengiriman pesan singkat yang berisi PHK kepada dua penggugat.

Aliansi Buruh Yogyakarta memandang, jika mengacu pada UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa perusahaan tidak mempunyai kewenangan untuk menahan atau bahkan menyimpan ijazah atau identitas yang sangat berharga bagi pekerja dengan alasan apapun. Selain itu, kontrak yang ditawarkan tergugat dinilai menyalahi aturan.

Sehingga kekhawatiran kami bahwa ijazah tersebut akan ditahan. Atau ijazah tersebut bisa hilang atau rusak karena ijazah itu tidak ada penggantinya. Kalau itu terjadi kerugian terbesar ada ditangan pekerja,” tambah Kirnadi.

Hingga bewrita ini disusun, sidang masih bergulir di Pengadilan Tipikor dan Hubungan Industrial Yogyakarta dengan agenda pembacaan putusan perkara oleh hakim ketua.