Pemutaran Perdana Film Danais Dinas Kebudayaan DIY Disambut Antusias Penonton
Peristiwa

Pemutaran Perdana Film Danais Dinas Kebudayaan DIY Disambut Antusias Penonton

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Sebanyak tujuh film hasil kompetisi pendanaan Dinas Kebudayaan DIY yang berhasil diproduksi akhirnya diputar perdana pada 9-10 Oktober di halamam Dinas Kebudayaan DIY. Meski digelar di luar ruangan, namun pada pemutaran film perdana ini disambut antusias tinggi para penonton yang terdiri dari mahasiswa perfileman, sineas dan anak-anak muda.

Sebelumnya, para sineas wajib mengajukan proposal pendanaan pembuatan film yang selanjutnya akan dikurasi oleh kurator dari seniman senior yang paham betul dengan dunia perfilman dan iklim kebudayaan di Yogyakarta.

Proses kurasi berjalan cukup alot karena harus bisa menunjuk tujuh buah film dari puluhan film yang masuk dan akan diproduksi. Tak sembarang film yang bisa lolos seleksi di tangan kurator, karena harus memenuhi beberapa indicator. Indicator itu diantaranya adanya penguasaan atmosfer sosial budaya di Yogyakarta dan ketepatan memilih isu tematik untuk diangkat ke dalam film.

Di tahun 2018, ada tujuh film yang secara sah didanai oleh Dinas Kebudayaan DIY. Dari tujuh film tersebut, terdiri dari lima film fiksi dan dua film dokumenter.

Kelima film fiksi di tahun 2018 berjudul Rong, Kembalilah dengan Tenang, Tilik, Loz Jogjakartoz, dan Brigadir Jogowargo. Sedangkan judul dua film dokumenter yang lolos kurasi adalah Di Bawah Langit yang Sama, dan Salam Aspal Gronjal.

Sri Eka Kusumaningayu yang membidangi seksi seni kontemporer dan seksi perfilman pada pertemuan sebelumnya menyampaikan bahwa pendanaan film setahun sekali ini berasal dari dana keistimewaan. Untuk film fiksi tahun 2018 mendapat dana Rp 198 juta per filmnya, sedangkan untuk genre film dokumenter mendapat jatah Rp 170 juta per film.

Di tahun berikutnya dana yang diberikan untuk produksi film akan semakin besar, sehingga menjadi stimulan bagi sineas untuk menuangkan ide dan gagasan kerennya dalam film.

"Ada proses pitching untuk mendapatkan judul film yang akan didanai, waktu pembuatan filmnya juga didampangi supervisor dari seniman film," kata Eka, Rabu (10/10).

Menurut salah seorang kurator Indra Tranggono, sejak munculnya film danais Dinas Kebudayaan DIY dari tahun 2013, yang paling menonjol adalah perubahan di genre film dokumenter. 

Yang cukup menyita perhatian penonton adalah film yang berjudul Loz Jogjakartoz yang menghadirkan gambaran lain dari Yogyakarta. Bahkan Indra sang kurator begitu membaca skenario pertama kali langsung tertarik dengan ceritanya.

"Penilaian kurator tidak terjadi satu kali. Begitu membaca Loz Jogja. Saya pribadi skenarionya memberikan cara pandang yang berbeda tentang Yogyakarta. Menyatukan pertalian politik, agama, premanisme yang selama ini tidak pernah saya lihat. Dengan titik temu burung. Ini tafsir terbuka. Karya seni yang baik tidak mencegat imajinasi penonton. Loz Jogjakartoz berhasil membuka ruang kemungkinan terbaru," tutur Indra.