Tak Ramah Lingkungan, Resto Waralaba Ini Ajak Konsumen Tinggalkan Sedotan Plastik
Sosial

Tak Ramah Lingkungan, Resto Waralaba Ini Ajak Konsumen Tinggalkan Sedotan Plastik

Gondokusuman,(jogja.sorot.co)--Sampah plastik diyakini menjadi salah satu jenis sampah yang sulit didaur ulang dan menjadi sumber pencemaran lingkungan. Penggunaannya yang simple, fleksibel dan harganya yang murah, menjadikan banyak masyarakat menggunakan produk-produk berbahan baku plastik. Namun, semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan produk plastik, dapat dipastikan akan menambah produksi sampah plastik yang akan merusak kelestarian lingkungan.

Salah satu jenis produk berbahan baku plastik yang menjadi penyumbang sampah plastik ialah sedotan plastik sekali pakai. Beberapa sumber mengungkapkan bahwa sampah sedotan plastik masih menduduki peringkat ke-5 penyumbang sampah plastik di dunia termasuk Indonesia. Melihat kondisi tersebut salah satu restoran waralaba di Indonesia mengajak konsumen untuk tidak menggunakan sedotan plastik dengan gerakan #Nostrawmovement. Gerakan tanpa sedotan plastik yang bersifat nasional itu bertujuan untuk mengedukasi masyarakat konsumen dalam rangka mengurangi sampah plastik.

KFC Indonesia sejak tahun 2017 lalu telah mencanangkan gerakan #Nostrawmovement dimulai dengan wilayah Jabodetabek, dan pada Mei 2018 menjadikan gerakan tanpa sedotan plastik ini menjadi gerakan nasional di 630 gerai KFC seluruh Indonesia. Kami tidak menyediakan langsung sedotan plastik dengan menghilangkan dispenser sedotan dan mengajak konsumen untuk tidak menggunakannya kecuali sangat membutuhkan,” ujar General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia, Hendra Yuniarto, dalam siaran persnya Sabtu (3/11/2018).

Sebelumnya, kata Hendra, penggunaan sedotan plastik di seluruh gerai waralaba PT Fast Food Indonesia mencapai 12 juta per bulan. Sejak gerakan itu dimulai di enam gerai pada Mei 2017 dan terus berkembang hingga 233 gerai di wilayah Jabodetabek di akhir 2017. Pemakaian sedotan plastik di gerai KFC secara bertahap mengalami penurunan hingga 45% di setiap gerainya. Kemudian sejak dicanangkan sebagai gerakan nasional pada Mei 2018 lalu, pemakaian sedotan terus berkurang secara bertahap dan ditargetkan pada akhir 2018 ini penggunaan sedotan akan turun hingga 54% di seluruh gerai yang ada. 

Dengan menjadikan gerakan ini menjadi gerakan nasional kami berharap dapat semakin mengurangi penggunaan sedotan plastik dan berkontribusi dalam penyelamatan laut Indonesia. Gerakan ini merupakan bentuk komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan,” tambahnya.

Menurutnya, setiap tahunnya sekitar sepertiga biota laut termasuk terumbu karang, dan bahkan burung laut, mati karena sampah plastik termasuk sedotan plastik sekali pakai yang berakhir di lautan. Hal ini dinilai sangat mengkhawatirkan mengingat terumbu karang berperan besar melindungi pantai dari erosi, banjir pantai, dan peristiwa perusakan lain yang diakibatkan oleh fenomena air laut. Terumbu karang juga merupakan tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar bagi berbagai biota laut.

Sementara itu, relawan dari Divers Clean Action (DCA) Amrullah Rosadi menjelaskan, dari data Kementrian Lingkungan Hidup RI, sekitar 70% sampah plastik di Indonesia dapat dan telah didaur ulang oleh para pelaku daur ulang. Tetapi tidak demikian dengan sedotan plastik yang karena nilainya sangat rendah (Rp 1.000/kg) dan sulit didaur ulang, sehingga hampir tidak ada pelaku daur ulang sedotan plastik. Rata-rata setiap orang menggunakan sedotan plastik sebanyak 1-2 kali setiap hari, dan perkiraan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 sedotan.

Walaupun hanya berukuran panjang 10 centimeter tetapi perlu 500 tahun agar sampah sedotan plastik dapat terurai secara alami. Sedotan sekali pakai umumnya berbahan plastik tipe polypropylene yang tahan lama, namun tidak terdegradasi secara alami, sehingga semakin lama menjadi butiran kecil yang disebut mikroplastik yang sangat berbahaya bagi ekosistem laut,” katanya.

Sementara itu, sebagai alternative pengganti sedotan plastik tersebut, pihak waralaba juga telah melakukan beberapa ujicoba dan penelitian untuk membuat produk sedotan yang ramah lingkungan. Di antaranya membuat produk sedotan berbahan dari makanan seperti umbi-umbian, sedotan berbahan kaca dan sedotan berbahan stainless. Namun hingga saat ini belum ada produk yang cocok dan diterima konsumen sebagai pengganti produk sedotan plastik. Sehingga, para konsumen dianjurkan untuk minum secara langsung dari gelas tanpa menggunakan sedotan plastik.