Moratorium Dicabut, Pemkot Jogja Beri Kesempatan Pembangunan Hotel Baru
Ekonomi

Moratorium Dicabut, Pemkot Jogja Beri Kesempatan Pembangunan Hotel Baru

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Di akhir tahun 2018 Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta merevisi kebijakan moratorium pembangunan hotel di wilayah Kota Yogyakarta. Melalui Peraturan Walikota (Perwal) Yogyakarta Nomor 85 tahun 2018 tentang Pengendalian Pembangunan Hotel, Pemkot Yogyakarta akan mengizinkan pendirian atau pembangunan hotel baru dengan batasan-batasan tertentu di tahun 2019.

Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, Pemkot hanya mengizinkan pembangunan hotel khusus bintang lima, bintang empat dan guest (house rumah) singgah atau home stay. Kebijakan pemkot tersebut berlaku per tanggal 1 Januari 2019 setelah melakukan kajian dan diskusi dengan beberapa pihak di antaranya dari jajaran Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Yogyakarta.

Kebijakan pembukaan kran pembangunan hotel itu juga melihat adanya pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo. Dengan adanya bandara baru dengan penerbengan internasional tersebut, jumlah kunjungan wisatawan baik domestic dan manca Negara akan mengalami peningkatan. Sehingga, untuk mendukung di sektor pariwisata akan dibutuhkan fasilitas hotel atau penginapan yang lebih banyak.

Kondisi strategis yang ada di depan mata kita bahwa pada triwulan pertama 2019 ini akan mempunya bandara baru di Kulon Progo. Di bandara lama di Adisutjipto, kita per hari mendapatkan sekitar 7.000-8.000 penumpang dan di hari-hari lubur atau week end bisa mencapai 9.000-10.000 penumpang. Di Bandar baru nanti diharapkan mampu menampung 15.000-25.000 penumpang,” kata Heroe Poerwadi, Ranu (2/1) saat memberukan keterangan kepada media.

Kondisi eksternal tersebu, menurut Heru, akan mengubah iklim bisnis di wilayah Kota Yogyakarta dan sekitarnya termasuk di dunia pariwisata dan perhotelan. Data PHRI tercatat terdapat 624 hotel di Kota Yogyakarta. Dari jumlah hotel tersebut meliputi hotel bintang lima sebanyak 4, bintang empat sebanyak 14 hotel, bintang tiga 30 hotel, bintang dua sebanyak 19 hotel, bintang satu sebanyak 19 hotel, melati tiga sebanyak 29 hotel, melati dua sebanyak 43 hotel melati satu losmen sebanyak 314 hotel dan 152 losmen atau penginapan. 

Dari seluruh hotel yang ada, jumlah kamar mencapai sekitar 14.000-20.000 kamar. Dari kondisi itu ternyata pada hari libur tahun baru kemarin semua hotel penuh, bahkan saya menemukan beberapa mobil dari Jakarta dan kota lain yang menginap di SPBU,” ujarnya.

Dengan itu dan kondisi tersebut dan kondisi strategis terkait pertumbuhan penumpang di bandara baru dan ketersediaan fasilitas bagi wisatawan dan pengunjung di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, sehingaa dianggap penting membuka pembangunan hotel khusus bintang lima dan bintang empat serta serta guest house. Dengan kebijakan tersebut, pemkot juga berharap masyarakat lokal untuk ikut ikut menikmati perkembangan wisata untuk mengembangkan guest house atau home stay.

Sedangkan izin diberikan untuk pembangunan hotel bintang lima dan empat, bertujuan agar mengurangi jumlah investor di bidang perhotelen. Pasalnya, untuk pembangunan hotel bintang lima dan empat akan memerlukan standar tapak lahan yang luas dengan kapasitas kamar tertentu. Selain itu, hotel bintang lima dan empat juga menyediakan kamar dengan jumlah yang lebih banyak. Hotel bintang lima dan empat juga dipercaya memiliki kemandirian yang lebih kuat untuk menarik wisatawan untuk berkunjung.

Nanti hotel-hotel yang baru ini wajib mengambil air dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) dan tidak lagi ada sumur dalam. Termasuk persyaratan IMB dan perparkiran akan kita buat aturannya. Setiap hotel harus siap untuk menyiapkan lahan parkir yang cukup supaya tidak memadati jalan-jalan. Dan nanti, izin hotel yang akan kita proses hanya kalau memperoleh rekomendasi dari PHRI,” tandas Heroe.