Kredit Fiktif Bank Jogja, Kejati DIY Tahan Dua Manajer Transvision
Hukum & Kriminal

Kredit Fiktif Bank Jogja, Kejati DIY Tahan Dua Manajer Transvision

Umbulharjo,(jogja.sorot.co)--Dua orang resmi ditetapkan tersangka kasus kredit fiktif Bank Perkreditab Rakyat (BPR) Bank Jogja, Kamis (25/3/2021) siang. Penetapan tersebut disampaikan langsung oleh Pelaksana Harian Kepala Seksi Penerangan dan Hukum Kejati DIY Mohammad Fatin, Jumat (26/3/2021).

Dua orang tersangka tersebut yakni bernama Klau Victor Apryanto alias KVA dan Farel alias FE, kata Fatin. 

Fatin menyampaikan bahwa keduanya orang itu bekerja PT Indonusa Telemedia (Transvision). Adapun KVA berperan sebagai branch manajer, sedangkan untuk  FE merupakan bendahara atau manajer keuangan di Transvision.  

Fatin menjelaskan, proses penetapan tersangka usai keduanya dipanggil dan diperiksa pada Kamis pagi. Lalu sekitar pukul 13.30 WIB keduanya langsung dilakukan penahanan. 

Usai penetapan tersangka, langsung kami tahan di Lapas Kelas II A Yogyakarta selama 20 hari sambil menunggu proses penyidikan lebih lanjut, tandas Fatin.

Seperti diketahui bahwa kasus tersebut muncul dalam dokumen Perjanjian Kerja Sama PD BPR Bank Jogja dengan PT Indonusa Telemedia (Transvision) tertanggal 19 Agustus 2019. Saat itu KVA menjabat sebagai Branch Manager (pimpinan cabang) Transvision yang beralamat di Jalan DI Panjaitan No. 15 Mantrijeron, Jogja. Sedangkan F menjabat bendahara atau manajer keuangan di Transvision. 

Kedua tersangka tersebut memanfaatkan fasilitas kredit bagi karyawan yang ada di Bank Jogja. Tercatat ada 167 karyawan yang mengajukan kredit, namun hanya 5 karyawan saja yang tercantum sebagai karyawan tetap Transvision. Sedangkan lainnya merupakan karyawan abal-abal.

Untuk mengelabui, ratusan karyawan abal-abal itu mendapatkan pelatihan sebelum datang ke Bank Jogja untuk melakukan pencairan dana. Guna menyakinkan petugas, para karyawan tersebut juga mendapatkan seragam yang berlogo Transvision, slip gaji dan rekening bank juga ikut disertakan. Untuk meyakinkan pihak bank, slip gaji dan rekening bank milik karyawan fiktif itu ikut disertakan.

Sedangkan peran F yakni saat itu ikut mendampingi pada saat ke Bank Jogja. Setiap karyawan yang ingin mengajukan kredit terlebih dahulu diambil foto. Jumlah pinjaman antara Rp 80 juta hingga Rp 300 juta dengan batas pengembalian 120 bulan. 

Sebelum Kejati melakukan sidik, angsuran tersebut berjalan normal. Namun memasuki bulan September 2020, sebagian kredit tersebut macet. Sehingga hasil audit dari tim Kejati DIY mengalami kerugian senilai Rp 27 miliar.