Pengusaha Hotel Mengeluh Rendahnya Tingkat Hunian Selama Ramadan
Ekonomi

Pengusaha Hotel Mengeluh Rendahnya Tingkat Hunian Selama Ramadan

Gedongtengen,(jogja.sorot.co)--Pengusaha hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengeluhkan turunnya okupansi hotel dalam waktu belakangan ini. Pengusaha Hotel Permata, Ipung Purwandari mengaku, penurunan okupansi tersebut disebabkan karena banyaknya hotel-hotel baru yang berdiri di wilayah DIY.

Menurutnya, penurunan jumlah tamu yang menginap paling dirasakan oleh kalangan pengusaha hotel non bintang karena saat ini masih dominasi oleh hotel berbintang. Angka keterisian kamar hotel non bintang terus menurun. Bahkan pada akhir pekan keterisian kamar hanya menyentuh angka 50 persen dan sesekali pada masa peak season bisa mencapai 100 persen.

:Paling bagus itu 50 persen, tetapi itu jarang. Apalagi di bulan puasa ini. Ada yang sampai 100 persen tetapi hanya di ring I (kawasan dekat Malioboro),” ujarnya, Jumat (24/5).

Ipung menambahkan, memburuknya tingkat hunian hotel dikawatirkan akan mengakibatkan banyak pengusaha hotel lokal yang terancam gulung tikar atau menjual asetnya ke pihak lain. Terlebih, kini banyak berdiri hotel-hotel baru di wilayah lain seperti di Gunungkidul seiring dengan perkembangan pariwisatanya. Sedangkan di Kulon Progo juga dipastikan akan banyak investor hotel yang akan masuk dengan beroperasinya bandara baru.

Saya nanti jika diperbolehkan akan ke komisi B Dewan DPRD Kota Yogyakarta untuk memperbaiki hal tersebut, agar hotel non bintang dapat menjadi primadona kembali,” tandas Ipung.

Sementara itu, Ketua PHRI Sleman yang sekaligus Generasi Manager Sahid Jaya Hotel & Convention Yogyakarta, Joko Paromo menambahkan, selama bulan ramadan ini okupansi turun, bahkan sampai 25 persen. Menurutnya, kini hotel lebih kuat dalam menjual paket buka bersama, sehingga menjadi sumber pemasukan hotel meski bukan pada masa liburan. 

Meski Yogyakarta memiliki banyak hotel, Joko mengaku tidak khawatir dengan persaingan yang ada karena setiap hotel punya keunggulannya masing-masing. Selain itu, tiap hotel juga memiliki segmen yang berbeda-beda.

Meskipun okupansi hunian turun, tidak menutup kemungkinan demand (permintaan) nya akan bertambah dari tahun lalu karena libur tahun ini lebih panjang,” tandas Joko.