Istri jadi TKI Suami Justru Nakal, Menjadi Penyebab Perceraian Selain Karena Pandemi
Peristiwa

Istri jadi TKI Suami Justru Nakal, Menjadi Penyebab Perceraian Selain Karena Pandemi

Umbulharjo, (jogja.sorot.co)--Kota Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang menyumbang devisa pada negara melalui pendapatan tenaga kerja indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. TKI dari Yogyakarta yang bekerja di luar negeri memiliki tujuan untuk menaikkan kesejahteraan keluarga dengan pendapatan yang lebih tinggi, tapi ternyata tidak bisa bersinergi dengan keadaan sebenarnya di kampung halaman saat ini.

Menurut Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, tingginya angka perceraian di Kota Yogyakarta bukan hanya karena kendala pandemi Covid. Tapi perilaku suami yang ditinggal istrinya bekerja di luar negeri sebagai TKI/ TKW juga menjadi penyebab perceraian.

Menurut Walikota, pendapatan TKI dan TKW asal kota Yogyakarta yang dikirimkan ke suaminya untuk kebutuhan keluarga, 80 persennya tidak tepat sasaran. Ada yang tidak sampai ke anak atau bahkah hanya habis untuk kenakalan sang suami yang minum-minum minuman keras, main perempuan dan suami yang menikah lagi.

Sebenarnya warga Yogyakarta yang kerja di luar negeri itu tujuannya mulia untuk mensejahterakan keluarga. Tapi mirisnya, uangnya itu nggak sampai ke anaknya, malah dipakai buat nakal sendiri dan anak bahkan banyak yang putus sekolah,” ujar Walikota Hariyadi Suyuti di Kantor Pemkot Yogyakarta, Jum’at (01/10/2021).

Keadaan itu yang menurut Walikota menjadi salah satu penyebab tingginya angka perceraian selain karena faktor ekonomi yang sangat terjepit karena faktor pandemi yang belum usai hingga kini. 

Menurut Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), berdasarkan data semester pertama tahun 2021 ini, ada 6.783 TKI yang berasal dari Wilayah Provinsi DIY. Pekerja itu tersebar di 73 negara di Dunia.

Dengan banyaknya pekerja dan sebaran negara tempat bekerjanya, menurut rekapitulasi akhir tahun 2020 lalu, kiriman uang masuk ke wilayah DIY dari pekerja migran mencapai Rp. 284 miliar dalam transaksi selama tahun 2020 lalu.

Sebenarnya jumlahnya cukup besar, kalau dirata-rata setiap bulannya ada 23 miliar masuk ke DIY dari pekerja migran itu. Mungkin perlu program pendampingan untuk pencegahan penyalahgunaan uang kiriman itu ya, mungkin bermanfaat juga untuk meminimalisir angka perceraian,” ujar Sekertaris Utama BP2MI, Tatang Budie Utama Razak saat dikonfirmasi melalui jaringan sorot, Jum’at (01/10/2021).