Diproduksi Berhari-hari, Satu Lembar Tenun Sutra Alam Laku Jutaan
Ekonomi

Diproduksi Berhari-hari, Satu Lembar Tenun Sutra Alam Laku Jutaan

Danurejan, (jogja.sorot.co)--Keberagaman industri usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Yogyakarta membantu percepatan pemulihan perekonomian saat masa pandemi. Produk UMKM ada banyak jenis, tenun sutra dari bahan baku alam salah satunya.

Tenun Sutra yang dikerjakan oleh Endro Kuswardjo warga Jalan Tamansiswa Kalurahan Wirogunan, Kemantren Mergangsan salah satunya.

Bahan baku tenun sutra yang ja buat menggunakan bahan alam menjadikan hasil karyanya diburu oleh pembeli, bahkan pembeli banyak yang dari luar kota Yogyakarta.

Yang khas dalam produk ini aalah bahan bakunya dari bahan alami, tidak menggunakan bahan kimia. Ini yang menjadikannya tetap diminati walau perekonomian sangat sulit saat pandemi kemarin,” ujar Endro Kuswardjo di stand penjualannya di Malioboro Mall, Rabu (13/10/2021).

Proses pembuatan kain tenun sutra ini pun menurutnya tidak begitu sulit, hanya perlu intuisi seni dan kesabaran serta ketelatenan dalam pengerjaannya. 

Jika semuanya lancar dan dimudahkan dan pengrajin bisa fokus, dibutuhkan waktu sekitar 5 hari untuk mengerjakan kain tenun sutra dengan bahan baku alam untuk kemudian hasil karnyanya itu siap jual.

Bahan dari alam, jadi tidak begitu susah mendapatkannya. Hanya perlu insting seni, sabar dan fokus saja. 4 sampai 5 hari sudah jadi dan siap jual,” imbuhnya.

Setelah produk jadi, kain tenun sutra itu dijual dengan kisaran harga Rp. 1,5 juta hingga Rp. 4 juta per lembarnya. Walau harga tinggi, menurut Endro, produknya tetap diminati.

Menurutnya, penggemar sutra akan tahu sendiri keistimewaan hasil produksinya. Jika sudah tau produksinya dan harga produk seperti itu, justru dipandang tidak mahal untuk kelasnya.

Kedepannya ia berharap pemerintah kota Yogyakarta untuk membuka melakukan pendampingan produksi UMKM agar bisa lebih berkembang lagi dan bisa go internasional.

Menurut Endro, untuk merambah pasar diluar negeri dirinya dan pelaku UMKM di Kota Yogyakarta hanya mengandalkan sosial media sebagai sarana marketing produknya.

Belum ada pendampingan dan bimbingan dari Pemkot Yogyakarta untuk bisa mempermudah proses penjualan ke negara luar negeri.

Kalau misalnya galeri khusus produk UMKM Yogyakarta di luar negeri kayaknya akan bisa meningkatkan produksi dan perputaran ekonomi akan jauh lebih bagus lagi,” harapny