Akibat Buruk  Miras  dan Kesadaran Masyarakat Wujudkan Jogja Tanpa Miras
Komunitas

Akibat Buruk Miras dan Kesadaran Masyarakat Wujudkan Jogja Tanpa Miras

Jetis, (jogja.sorot.co) - Kota Yogyakarta merupakan Kota Pendidikan, Kota Budaya dan Kota Pariwisata. Identitas itu melekat di Yogyakarta karena kota ini memiliki nilai sejarah yang cukup panjang, selain itu, dengan status kota Pendidikan dan kota pariwisata itu menyebabkan banyak masyarakat dari luar daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda berbaur dengan masyarakat lokal.

Latar belakang budaya dari daerah asal masyarakat itu jadi salah satu penyebab maraknya peredaran minuman keras di Yogyakarta. Seperti diketahui, minuman keras merupakan minuman yang mengandung alcohol dan berpotensi besar menghilangkan kesadaran seseorang untuk kemudian berakibat terjadinya sebuah tindakan yang berpotensi besar mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat,

Aksi kriminalitas salah satunya, berdasarkan peliputan Sorot di Polresta Yogyakarta, mayoritas tindakan kriminalitas yang berhasil diungkap kepolisian merupakan akibat pengaruh minuman keras yang menjadi latar belakang pelaku untuk melakukan tindakan kriminal.

Penggunaan minuman keras tersebut memiliki dampak yang buruk, banyak korban yang berjatuhan bahkan sampai meninggal dunia akibat miras oplosan ini. Bukan hanya itu, miras ibarat sudah menjadi keharusan sebelum melakukan aksi klitih. Ada banyak terjadi klitih yang di awali dari aksi penyalahgunaan miras yang menimbulkan banyak korban.

Sebagai informasi, kasus klitih dan penyalahgunaan miras dilakukan agar mereka para pelaku klitih bisa semakin berani, tega, dan semakin percaya diri dalam melakukan aksinya. Yogyakarta adalah kota yang cukup rawan akan peredaran minuman keras ilegal, hal itu disebabkan karena Yogyakarta selain dikenal sebagai kota Pendidikan, dikenal pula sebagai kota pariwisata.

Prawirotaman merupakan salah satu wilayah di Yogyakarta yang dikenal sebagai tempat wisatawan asing berkumpul karena menyediakan minuman keras berbagai merek yang ditemukan hampir di semua cafe di Prawirotaman.

Bukan tidak tahu atau tidak peduli, Pemerintah Pemda DIY sebenarnya sudah mengeluarkan aturan dengan bentuk peraturan daetah (Perda). Jika ingin menjual miras beralkohol harus memiliki surat izin sesuai dengan Perda DIY Nomor 12 Tahun 2015 Tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol serta Pelarangan Minuman Oplosan. Jika tidak memiliki izin akan di proses hukum, karena efek minuman keras menjadi latar belakang penyebab terjadinya kriminalitas dan mengganggu ketertiban umum.

Itu memperkuat aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang ada di Pasal 300 ayat 1,2 dan 3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai larangan dan ancaman hukuman bagi peminum minuman keras. Dilihat dari penjelelasan KUHP menurut R Susilo, menjelaskan jika penyalahgunaan minuman keras dapat mengakibatkan seseorang yang dibawah pengaruh miras untuk menjadi seseorang yang tanpa kesadaran dan cenderung melakukan tindakan kekerasan.

Tapi sayang, dari data aktual (berdasarkan rekapitulasi data yang disediakan oleh Mahkamah Konstitusi) yang didapatkan sorot mengenai pemberantasan miras di Kota Yogyakarta terakhir terjadi pada 3 Agustus 2019 lalu. Saat itu Polrestabes Yogyakarta berhasil membongkar penjualan miras di daerah Gejayan dengan barang bukti sebanyak 2.690 botol miras dengan berbagai merek. Dalam kasus itu, Polisi mengamankan penjual berinisial AEM berusia 44 Tahun.

Kesadaran Warga Yogyakarta

Keberagaman kehidupan masyarakat di Yogyakarta menggugah kesadaran sebagian warga yang mengetahui dan memahami akan dampak miras. Beberapa warga Yogyakarta dari berbagai latar belakang dan lintas usia kemudian menyepakati bersama untuk mendirikan sebuah organisasi masyarakat (Ormas) dengan nama dan tujuan yang sama; Jogja Tanpa Miras (JTM).

Pada tahun 2018 yang lalu ormas JTM ini berdiri. Dalam 3 tahun perjalanannya, JTM melakukan edukasi atau menjadi sebuah Ormas Public Educator terhadap masyarakat Yogyakarta mengenai bahaya miras.

Tak hanya sendiri, JTM juga merangkul ormas yang lain seperti Karang Taruna Kota Yogyakarta, Tagana Kota Yogyakarta, Lindu Aji, Laskar Komando Jaya (Lakodja) dalam menjalankan edukasi pada masyarakat mengenai dampak negative dan pengaruh buruk miras.

Inisiatior sekaligus Ketua JTM, Saltana, menyatakan jika perjalanan JTM bisa cukup aktif dan massif dalam perjuangan dengan bantuan dari Ketua Lakodja, Nuri Marzuki.

Dalam 3 tahun ini, JTM bergerak di kelompok Kalurahan dan dari Kemantren ke kemantren yang ada di wilayah Kota Yogyakarta untuk mewujudkan Jogja Tanpa Miras.

Kedepannya, Ketua JTM, Saltana, menyatakan jika akan mencoba sebuah formulasi baru dalam kegiatan public education nya.

Kita akan tingkatkan kegiatan kita dalam mewujudkan Jogja tanpa miras. Bukan lagi seperti beberapa waktu lalu dengan adakan sosialisasi kebudayaan bersama warga dari kemantren ke kemantren lagi. Kami akan masuk hingga ke RT, Pendidikan juga akan kami sentuh dengan melakukan edukasi ke siswa di SMP, SMA dan SMK,” jelasnya.