Kasus Pernikahan Dini di DIY Tinggi
Gaya Hidup

Kasus Pernikahan Dini di DIY Tinggi

Umbulharjo, (jogja.sorot.co) – Kasus pernikahan dini di DIY tinggi. Pengadilan Agama (PA) di seluruh DIY mencata tahun 2019 dispensasi perkawinan tercatat 583 kasus. Tahun 2020 meningkat menjadi 959 kasus, dan tahun 2021 ada 756 kasus.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY Zuhdi Muhdlor mengatakan meski 2021 ada penurunan dibanding tahun sebelumnya namun angka tersebut masih cukup tinggi. Apalagi mayoritas atau hampir semua perkawinan di bawah umur yang mendapat dispensasi itu akibat pasangan perempuan sudah hamil terlebih dahulu.

" Mereka ini masih pelajar. Dan yang paling menjadi korban ialah siswa perempuan, karena setelah hamil akan keluar atau bahkan dikeluarkan dari sekolah. Ini kondisi memilukan bagi orangtua," katanya saat Semiloka Sadar Usia Perkawinan; Say No to Nikah Muda di aula kantor wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY, Kamis (16/6/2022),

Zuhdi menjelaskan pernikahan usia anak merupakan masalah krusial bagi masa depan bangsa. Sebab banyak persoalan yang akan terjadi akibat tidak taat terhadap sistematika kehidupan. 

Sementara dari kacamata agama, pernikahan di bawah umur tersebut menunjukkan turunnya kualitas keimanan seseorang. Apalagi tidak sedikit pula kasus pernikahan anak berbuntut pada persoalan yang semakin kompleks.

Oleh karena itu perlu ada peran dari semua pihak guna menekan angka pernikahan dini sebagai bagian menyelamatkan generasi bangsa,” jelasnya.

Pengurus badan penasehat Pembina dan pelestari perkawinan (BP4) DIY, Ahmad Ghozali, menambhakan sejauh ini Bp4 sudah memaksimalkan peran dan tugasnya dalam memberikan nasehat dan bimbingan. Di antaranya melalui bimbingan usia nikah serta bimbingan pernikahan. Akan tetapi sasaran yang bisa dijangkau belum mencapai separuh dari total pasangan yang ada di DIY. Sehingga dibutuhkan peran dari banyak pihak agar perkawinan mampu benar-benar memberikan rahmat.

Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY Gama Triono mengatakan pernikahan usia dini, selain masalah mental dan moral juga perlu diperhatikan secara serius masalah kesehatan, yakni berupa kanker mulut rahim bagi kaum perempuan. Apalagi penyakit tersebut saat ini cenderung mengalami peningkatan hingga menjadi penyebab kematian yang tinggi.

PKBI DIY mengusulkan supaya pendidikan kesehatan reproduksi menjadi perhatian serius agar mudah diakses oleh kaum muda,” paparnya.

Dosen Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Rachmi Diana menjelaskan dealnya, pernikahan merupakan upaya menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan, bukan perkara menghalalkan sebuah hubungan. Sehingga pernikahan harus benar-benar direncanakan untuk mencegah sekaligus meminimalkan risiko konflik maupun perceraian.