Jeritan Ibunda Siswi yang Dipaksa Pakai Jilbab di Sekolah
Peristiwa

Jeritan Ibunda Siswi yang Dipaksa Pakai Jilbab di Sekolah

Umbulharjo, (jogja.sorot.co)--Setelah sebelumnya ramai pemberitaan mengenai seorang siswi kelas 1 SMA yang dipaksa berjilbab oleh sekolahnya di SMAN 1 Banguntapan, Bantul, muncul cerita mengenai curhat (curahan hati) ibu siswi tersebut di Media Sosial Facebook.

Herprastyanti Ayuningtyas yang mengaku ibunda siswi yang dipaksa guru mengenakan jilbab di SMAN 1 Banguntapan mencurahkan isi hatinya di Facebook. Ia mengaku merasa begitu sedih karena sang putri mengalami trauma dan belum pulih saat ini.

Herprastyanti menyatakan ia sebagai seorang wanita yang berjilbab tidak mengerti maksud tujuan sekolah yang dipandangnya 'memaksa' siswi sekolah untuk menggunakan jilbab.

Sebagai seorang yang menggunakan kerudung, saya tidak mengerti maksud sekolah yang memaksa itu apa. Alangkah baiknya jika berkerudung itu merupakan kesadaran diri sendiri, bukan paksaan,” ujarnya melalui postingan di Facebook pada Kamis (4/8/2022) malam.

Ia juga menceritakan bahwa sang putri bukanlah anak yang lemah atau bermasalah. Putrinya menjadi atlet sepatu roda diakui sudah terbiasa menghadapi tekanan meski ibu dan ayahnya sudah berpisah. 

Ibu itu juga mengungkapkan, pada Selasa 26 Juli lalu, sang putri tiba-tiba menelponnya, tanpa suara dan hanya terdengar menangis.

Tidak lama kemudian sang putri mengirim pesan Whatsapp dengan tulisan ‘Mama, aku mau pulang, aku ga mau di sini.’

Ibu mana yang tidak sedih baca pesan begitu. Ayahnya memberitahu, dari informasi guru, bahwa anak kami sudah satu jam lebih berada du kamar mandi sekolah,” tambahnya.

Herprastyanti pun langsung menjemput sang putri di sekolahnya, dan menemukan putrinya berada di UKS (Unit Kesehatan Sekolah) dalam kondisi lemas.

Melihat kedatangan ibunya, sang putri langsung memeluk Herprastyanti tanpa berkata satu patah katapun, hanya menangis tersedu selama beberapa waktu hingga diajak pulang.

Awal sekolah dia pernah bercerita bahwa di sekolahnya diwajibkan pakai jilbab, baju lengan panjang, rok panjang. Putri saya memberikan penjelasan kepada sekolah, termasuk wali kelas dan guru Bimbingan Penyuluhan, bahwa dia tidak bersedia. Dia terus-menerus dipertanyakan, ”Kenapa tidak mau pake jilbab,” sambung Herprastyanti.

Dalam ruang Bimbingan Penyuluhan, seorang guru diceritakan Herprastyanti menaruh sepotong jilbab di kepala sang putri yang menurut dia bukan tutorial jilbab karena sang anak tak pernah minta diberi tutorial.

Hal itu disebutnya sebagai pemaksaan, karena Herprastyanti yang mengenakan jilbab sehari-hari pun tak pernah melakukan pada sang putri.

Saya seorang perempuan, yang kebetulan memakai jilbab, tapi saya menghargai keputusan dan prinsip anak saya. Saya berpendapat setiap perempuan berhak menentukan model pakaiannya sendiri. Kini anak saya trauma, harus mendapat bantuan psikolog. Saya ingin sekolah SMAN 1 Banguntapan, pemerintah Yogyakarta serta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bertanggungjawab. Kembalikan anak saya seperti sediakala,” lanjutnya lagi.

Herprastyanti juga menegaskan adanya beberapa guru yang menuduh putrinya memiliki masalah keluarga dan menjawab bawasanya hal itu bukan masalah keluarga.

Banyak orang punya tantangan masing-masing. Guru-guru yang merundung, mengancam anak saya, saya ingin bertanya balik: Punya masalah apa anda di keluarga sampai anak saya jadi sasaran? Bersediakah bila kalian saya tanya balik seperti ini?,” pungkasnya.